JAKARTA – Tekanan terhadap rupiah belum mereda, menyusul keputusan Morgan Stanley Composite Index (MSCI) yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia.
Pada perdagangan Jumat (30/1/2026), rupiah dibuka melemah 0,29% ke posisi Rp16.795/US$, menandakan kehati-hatian pelaku pasar di tengah meningkatnya risiko domestik dan regional.
Rupiah menghadapi tekanan ganda. Dari sisi eksternal, pelemahan mata uang Asia turut menahan penguatan.
Sementara dari sisi domestik, investor masih mencerna dampak lanjutan keputusan MSCI yang memperpanjang ketidakpastian aliran dana asing, khususnya dari investor pasif yang menjadikan indeks global sebagai acuan.
Ketidakpastian ini diperparah oleh kekhawatiran soal aspek investability, likuiditas, dan struktur pasar saham Indonesia, yang memicu menurunnya kepercayaan investor.
Tekanan internal muncul dari dinamika kebijakan dan tata kelola pemerintah serta otoritas ekonomi, termasuk pergantian Deputi Gubernur Bank Indonesia yang dianggap memiliki afiliasi dengan Presiden.
"Perubahan ini menimbulkan pertanyaan terkait independensi bank sentral dan konsistensi arah kebijakan ke depan," kata analis pasar keuangan, menjelaskan sensitifitas isu bagi investor global.
Sentimen negatif bertambah dengan pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rahman, pagi ini.
Iman menyatakan pengunduran dirinya sebagai bentuk tanggung jawab atas aksi trading halt selama dua hari berturut-turut.
Dengan kombinasi sentimen eksternal dan internal, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas.
Pergerakan mata uang domestik ke depan sangat bergantung pada stabilitas arus modal, sinyal kebijakan otoritas moneter, dan langkah konkret regulator pasar dalam meredam volatilitas.
Pasca pengumuman MSCI, Goldman Sachs memangkas rekomendasi saham Indonesia menjadi underweight, memperingatkan risiko arus keluar dana pasif hingga US$13 miliar jika status Indonesia diturunkan ke frontier market.