BREAKING NEWS
Jumat, 20 Maret 2026

Rupiah Melemah ke Rp16.795/US$ di Tengah Ketidakpastian MSCI dan Pergantian Deputi BI

Adelia Syafitri - Jumat, 30 Januari 2026 10:26 WIB
Rupiah Melemah ke Rp16.795/US$ di Tengah Ketidakpastian MSCI dan Pergantian Deputi BI
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Tekanan terhadap rupiah belum mereda, menyusul keputusan Morgan Stanley Composite Index (MSCI) yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia.

Pada perdagangan Jumat (30/1/2026), rupiah dibuka melemah 0,29% ke posisi Rp16.795/US$, menandakan kehati-hatian pelaku pasar di tengah meningkatnya risiko domestik dan regional.

Rupiah menghadapi tekanan ganda. Dari sisi eksternal, pelemahan mata uang Asia turut menahan penguatan.

Baca Juga:

Sementara dari sisi domestik, investor masih mencerna dampak lanjutan keputusan MSCI yang memperpanjang ketidakpastian aliran dana asing, khususnya dari investor pasif yang menjadikan indeks global sebagai acuan.

Ketidakpastian ini diperparah oleh kekhawatiran soal aspek investability, likuiditas, dan struktur pasar saham Indonesia, yang memicu menurunnya kepercayaan investor.

Tekanan internal muncul dari dinamika kebijakan dan tata kelola pemerintah serta otoritas ekonomi, termasuk pergantian Deputi Gubernur Bank Indonesia yang dianggap memiliki afiliasi dengan Presiden.

"Perubahan ini menimbulkan pertanyaan terkait independensi bank sentral dan konsistensi arah kebijakan ke depan," kata analis pasar keuangan, menjelaskan sensitifitas isu bagi investor global.

Sentimen negatif bertambah dengan pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rahman, pagi ini.

Iman menyatakan pengunduran dirinya sebagai bentuk tanggung jawab atas aksi trading halt selama dua hari berturut-turut.

Dengan kombinasi sentimen eksternal dan internal, ruang penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas.

Pergerakan mata uang domestik ke depan sangat bergantung pada stabilitas arus modal, sinyal kebijakan otoritas moneter, dan langkah konkret regulator pasar dalam meredam volatilitas.

Pasca pengumuman MSCI, Goldman Sachs memangkas rekomendasi saham Indonesia menjadi underweight, memperingatkan risiko arus keluar dana pasif hingga US$13 miliar jika status Indonesia diturunkan ke frontier market.

Dalam skenario ekstrem, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI dapat melepas aset hingga US$7,8 miliar.

Langkah serupa diambil UBS Group AG yang menurunkan rekomendasi saham Indonesia menjadi netral dari sebelumnya overweight.

UBS menilai kekhawatiran MSCI terkait investability dan potensi reklasifikasi ke frontier market akan menjadi beban berkepanjangan hingga ada kepastian arah kebijakan regulator.

"Kami memperkirakan overhang di pasar akan bertahan sampai terdapat kejelasan regulasi dan evaluasi MSCI," tulis analis UBS, Sunil Tirumalai, dalam laporan risetnya.

Para analis menilai kombinasi tekanan eksternal, ketidakpastian regulasi, dan potensi arus keluar dana pasif dapat menahan penguatan rupiah dan menimbulkan volatilitas lanjutan di pasar saham domestik.

Investor disarankan untuk tetap hati-hati dan memantau sinyal kebijakan moneter serta hasil evaluasi MSCI.*


(bb/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
IHSG Dibuka Menguat 0,93%: Saham BBCA, BBRI dan TLKM Jadi Andalan Investor
Harga Emas Antam Turun Rp 48 Ribu per Gram, Meski Emas Dunia Catat Rekor Tertinggi
IHSG Rontok, Permainan Atau Mekanisme Pasar?
Harga Emas Antam Tembus Rp3,16 Juta/Gram, Rekor Tertinggi Sepanjang Masa!
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp16.775, Investor Optimistis Stimulus Fiskal Dongkrak Penguatan
IHSG Jatuh Tajam 5,09% Terdampak Pembekuan Rebalancing MSCI, Investor Diminta “Wait and See”
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru