Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
"Kalau harga minyak terlalu tinggi, ekonomi global tidak bisa menerima. Akibatnya mereka masuk resesi, dan setelah itu harga minyak bisa jatuh dalam sekali," jelasnya.
Purbaya merujuk pada pengalaman sebelumnya ketika harga minyak sempat melonjak hingga sekitar 150 dolar AS per barel sebelum akhirnya merosot tajam.
Kondisi ini menunjukkan bahwa produsen minyak, meskipun memperoleh keuntungan dari harga yang tinggi, pada akhirnya juga akan mengalami kerugian jika harga minyak tetap tidak terkendali.
"Kalau terlalu tinggi, akhirnya mereka juga rugi sendiri," katanya, menambahkan bahwa para produsen minyak perlu menjaga harga agar tidak merugikan perekonomian global.
Pelemahan rupiah juga tidak terlepas dari ketegangan geopolitik yang sedang berkembang.
Ibrahim Assuaibi, analis pasar uang, mengungkapkan bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengiriman minyak dunia, turut memberikan dampak negatif terhadap nilai tukar mata uang Asia, termasuk rupiah.
"Hari ini rupiah ditutup melemah mendekati Rp 17.000 per dollar AS. Sebelumnya sempat menyentuh Rp 17.006, dan akhirnya ditutup di Rp 16.998," kata Ibrahim kepada wartawan.*
(km/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.