JAKARTA - Hargaminyak dunia mengalami volatilitas yang signifikan pada perdagangan Jumat, 20 Maret 2026, seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya setelah Iran meluncurkan serangan terhadap fasilitas energi di kawasan tersebut.
HargaminyakBrent tercatat menguat US$ 1,27 atau 1,18%, berakhir di level US$ 108,65 per barel.
Namun, sepanjang sesi perdagangan, harga minyak Brent sempat melonjak tajam lebih dari US$ 11 hingga mencapai US$ 119,13 per barel, mendekati level tertinggi yang tercatat pada 9 Maret, yang merupakan puncak harga dalam hampir 3,5 tahun terakhir.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) justru ditutup terkoreksi, turun 18 sen atau 0,19% ke level US$ 96,14 per barel.
Sebelumnya, WTI sempat menyentuh level US$ 100,02 per barel, sebelum akhirnya menurun kembali.
Saat ini, selisih harga antara WTI dan Brent mencapai jarak terlebar dalam 11 tahun terakhir.
Pergerakan harga yang fluktuatif ini sebagian besar dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Iran baru-baru ini melancarkan serangan rudal terhadap fasilitas energi di kawasan tersebut, yang semakin memperburuk ketidakpastian pasokan energi global.
Dampak dari serangan tersebut juga turut mempengaruhi harga minyak acuan Timur Tengah, seperti Dubai dan Oman, yang tercatat melesat mencapai rekor tertinggi di kisaran US$ 65 per barel.
Sebagai respons, Amerika Serikat mengumumkan upaya untuk meredam lonjakan harga energi, dengan mempertimbangkan pencabutan sanksi terhadap minyakIran yang saat ini terjebak di kapal tanker, yang berjumlah sekitar 140 juta barel.
Langkah tersebut diambil seiring dengan kekhawatiran Amerika Serikat terkait dampak harga energi yang terus melambung, terutama menjelang pemilu paruh waktu pada November 2026.
Selain itu, pemerintah AS juga tengah mempertimbangkan untuk membuka cadangan minyak dari Strategic Petroleum Reserve guna menambah pasokan energi dan menenangkan pasar.