JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis (9/4/2026). Rupiah turun 78 poin atau 0,46% ke level Rp17.090 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.012 per dolar AS.
Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Tiffani Safinia mengatakan, pasar masih menunggu kejelasan realisasi kesepakatan tersebut, termasuk terkait pembukaan jalur strategis energi global.
"Pasar masih menunggu kepastian implementasi kesepakatan tersebut, termasuk pembukaan jalur strategis energi global," ujar Tiffani.
Sebelumnya, AS dikabarkan telah menerima proposal berisi 10 poin sebagai dasar negosiasi dengan Iran guna mengakhiri konflik.
Proposal itu mencakup sejumlah hal penting, seperti jaminan tidak adanya agresi terhadap Iran, pengakuan hak pengayaan uranium, hingga pencabutan sanksi utama dan sekunder dari AS.
Selain itu, proposal juga memuat penghentian resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap Iran, pembayaran kompensasi, hingga penarikan pasukan tempur AS dari kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan bahwa pembicaraan tersebut belum menandakan berakhirnya perang. Keputusan akhir tetap bergantung pada terpenuhinya seluruh syarat dari pihak Iran.
Di sisi lain, situasi geopolitik masih memanas setelah Israel dilaporkan melancarkan serangan udara besar-besaran di wilayah Lebanon. Serangan tersebut terjadi meski terdapat kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebut penghentian konflik di Lebanon bukan bagian dari kesepakatan tersebut. Hal serupa juga ditegaskan oleh Presiden AS Donald Trump yang menilai konflik di Lebanon sebagai isu terpisah.
Menurut Tiffani, meski ada perkembangan positif berupa kesepakatan gencatan senjata sementara, dampaknya terhadap pasar dinilai masih terbatas.
"Meskipun terdapat perkembangan positif berupa kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran, pasar menilai dampaknya masih bersifat sementara," jelasnya.
Ketidakpastian di kawasan Asia Barat, khususnya terkait jalur energi seperti Selat Hormuz, turut menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Kondisi ini juga menjaga harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah juga masih terbatas. Beberapa faktor seperti perlambatan ekspor, tekanan terhadap cadangan devisa, hingga kekhawatiran terhadap defisit fiskal turut membebani mata uang Garuda.
Sebagai catatan, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah ke level Rp17.082 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.009 per dolar AS.*