Namun, setelah keputusan Rismon untuk menarik buku tersebut, banyak pihak yang kecewa, termasuk sejumlah relawan yang telah membeli buku dalam jumlah besar.
Salah satu relawan yang membeli buku tersebut dengan total sekitar Rp 30 juta untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat mengungkapkan kekecewaannya.
"Saya merasa dikhianati karena kami membeli buku ini dengan keyakinan bahwa ini adalah hasil riset yang sah," ujarnya.
Setelah menyadari kesalahan dalam penelitiannya, Rismon memutuskan untuk menarik buku tersebut dari peredaran dan berjanji akan membuat antitesis dari buku-buku yang telah ditulisnya.
"Saya akan menyelesaikan koreksi saya terhadap penelitian saya yang tidak lengkap, yaitu Jokowi's White Paper dan Gibran End Game," katanya.
Rismon mengaku bahwa suasana di Jakarta terlalu hiruk-pikuk dan tidak nyaman baginya untuk menyelesaikan karya tersebut, sehingga ia memilih untuk menyelesaikannya di kampung halamannya, Balige, Sumatra Utara.
Ia juga menegaskan bahwa Gibran tidak mempermasalahkan hasil penelitiannya, selama dilakukan dengan jujur dan tidak ada motif politik.
"Saya sangat mengapresiasi keterbukaan keluarga Gibran, mereka menerima kritik dan koreksi dengan kepala dingin," tambahnya.*