Setelah sebelumnya menulis buku kontroversial berjudul Gibran End Game yang memuat temuan tentang riwayat pendidikan Gibran, Rismon kini menarik buku tersebut dari peredaran, setelah melakukan permintaan maaf secara langsung kepada kedua tokoh tersebut.
Rismon mengunjungi Solo dan Jakarta untuk meminta maaf kepada Jokowi dan Gibran.
Ia juga mengungkapkan niat untuk membuat buku baru yang akan menjadi antitesis dari dua buku yang telah diterbitkannya, yakni Jokowi's White Paper dan Gibran End Game.
Buku yang berjudul Gibran End Game ini awalnya diluncurkan pada 1 Januari 2026 dan langsung mengundang banyak perhatian publik.
Buku setebal 280 halaman tersebut mengangkat kontroversi mengenai surat keterangan penyetaraan ijazah SMA yang dimiliki oleh Gibran, yang menurut Rismon, diduga tidak sesuai prosedur.
Namun, proses penulisan buku tersebut menimbulkan tanda tanya.
Mikhael Sinaga, mantan ketua manajemen buku tersebut, mengungkapkan bahwa Rismon mampu menyelesaikan buku itu hanya dalam waktu 15 hari.
Mikhael menduga bahwa buku tersebut mungkin ditulis menggunakan bantuan teknologi, seperti artificial intelligence (AI) atau bahkan sudah disiapkan jauh sebelumnya, menunggu waktu rilis yang tepat.
"280 halaman itu dia selesaikan dalam waktu setengah bulan, ada kemungkinan dia menggunakan ChatGPT atau sudah menyiapkan buku ini sejak lama," ujar Mikhael, yang juga seorang podcaster di Sentana TV, dalam wawancara di YouTube iNews pada Rabu (18/3/2026).
Buku yang berfokus pada riset tentang riwayat pendidikan Gibran ini terjual sekitar 10 ribu eksemplar dalam dua bulan pertama dengan harga Rp 100 ribu per buku.
Mikhael menyebutkan bahwa total pendapatan dari penjualan buku ini mencapai sekitar Rp 1 miliar.
Namun, setelah keputusan Rismon untuk menarik buku tersebut, banyak pihak yang kecewa, termasuk sejumlah relawan yang telah membeli buku dalam jumlah besar.
Salah satu relawan yang membeli buku tersebut dengan total sekitar Rp 30 juta untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat mengungkapkan kekecewaannya.
"Saya merasa dikhianati karena kami membeli buku ini dengan keyakinan bahwa ini adalah hasil riset yang sah," ujarnya.
Setelah menyadari kesalahan dalam penelitiannya, Rismon memutuskan untuk menarik buku tersebut dari peredaran dan berjanji akan membuat antitesis dari buku-buku yang telah ditulisnya.
"Saya akan menyelesaikan koreksi saya terhadap penelitian saya yang tidak lengkap, yaitu Jokowi's White Paper dan Gibran End Game," katanya.
Rismon mengaku bahwa suasana di Jakarta terlalu hiruk-pikuk dan tidak nyaman baginya untuk menyelesaikan karya tersebut, sehingga ia memilih untuk menyelesaikannya di kampung halamannya, Balige, Sumatra Utara.
Ia juga menegaskan bahwa Gibran tidak mempermasalahkan hasil penelitiannya, selama dilakukan dengan jujur dan tidak ada motif politik.
"Saya sangat mengapresiasi keterbukaan keluarga Gibran, mereka menerima kritik dan koreksi dengan kepala dingin," tambahnya.*