Saat ini, pihaknya tengah memantau perkembangan kasus di dalam negeri maupun laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
"Keputusan kebijakan tidak bisa sembarangan atau gegabah. Kita tetap waspada, tapi tidak menyepelekan situasi," kata Aji saat ditemui di kantor BNPB, Jakarta Timur, Rabu (7/1/2026).
Selain lingkungan sekolah, aktivitas pekerja di kantor juga menjadi perhatian. Setelah libur panjang Natal dan Tahun Baru 2026, mobilitas masyarakat meningkat, termasuk penggunaan transportasi umum dan aktivitas di perkantoran.
Aji menekankan kunci menghadapi varian H3N2 Subclade K adalah kombinasi perilaku hidup bersih dan proteksi medis.
"Tetap di rumah bila sakit, banyak istirahat, konsumsi obat antivirus, terapkan etika batuk, dan gunakan masker," ujarnya.
Hingga saat ini, pemerintah belum menutup kemungkinan penyesuaian kebijakan.
Namun, sekolah online kembali akan dipertimbangkan hanya jika data epidemiologi menunjukkan lonjakan kasus yang signifikan.
Masyarakat diimbau tetap waspada, menjaga kebersihan, dan memperkuat imunitas untuk mencegah penularan.*
(d/dh)
Editor
: Adelia Syafitri
Sekolah Online Kembali Jadi Pertanyaan Publik, Ini Kata Kemenkes soal ‘Super Flu’