BREAKING NEWS
Kamis, 19 Maret 2026

Mendamba Sekolah Berkualitas

Redaksi - Senin, 19 Mei 2025 07:30 WIB
Mendamba Sekolah Berkualitas
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BSKAP menetapkan empat ciri utama sekolah berkualitas yang dapat menjadi acuan bagi seluruh satuan pendidikan di Indonesia. Pertama, pembelajaran berpusat pada peserta didik, di mana siswa aktif terlibat dalam proses belajar dan guru berperan sebagai fasilitator yang menggali potensi mereka.

Kedua, guru yang reflektif dan terus belajar, terbuka terhadap masukan, serta aktif berbagi dan berkolaborasi. Ketiga, lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan menghargai keberagaman, sehingga setiap anak merasa diterima dan dihargai. Keempat, kepemimpinan sekolah yang partisipatif dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan, dengan kepala sekolah sebagai penggerak perubahan yang menyatukan seluruh elemen sekolah dalam semangat bersama.

Hal yang menarik, keempat ciri ini berdiri di atas prinsip-prinsip mendasar pendidikan. Ia tidak melekat pada satu nama program tertentu, tidak terikat pada label-label kebijakan yang berubah seiring pergantian menteri atau periode pemerintahan. Ia adalah roh dari pendidikan itu sendiri.

Karena itu, penting bagi kita untuk tidak terjebak pada label program semata. Nama bisa berubah—dulu Kurikulum 2013, kemudian Merdeka Belajar, kelak mungkin akan hadir kurikulum atau program lain. Namun, yang terpenting ialah menjaga semangat yang terkandung di dalamnya: semangat pembelajaran yang bermakna, relasi yang sehat antara guru dan siswa, partisipasi komunitas, dan penguatan karakter.

Dalam konteks ini, warisan pemikiran Ki Hadjar Dewantara menjadi semakin relevan. Beliau tidak pernah menuliskan tentang kurikulum tertentu, tetapi mewariskan prinsip-prinsip yang abadi: menjadikan setiap tempat sebagai ruang belajar dan setiap orang sebagai guru.

Di tengah perubahan yang kadang membingungkan, prinsip inilah yang perlu terus dihidupkan. Sekolah bukan sekadar institusi formal, melainkan ruang kehidupan di mana nilai-nilai ditanamkan, potensi dibentuk, dan masa depan dijalani dengan harapan.

Kini, tantangan terbesar ialah bagaimana pemerintah mengawal implementasi visi ini secara konsisten. Bukan dengan jargon dan perubahan kurikulum yang mendadak, tapi dengan memastikan bahwa guru-guru kita benar-benar dimanusiakan, dilibatkan, dan diberdayakan. Hanya dengan cara itu, cita-cita pendidikan Indonesia emas 2045 bisa kita wujudkan, bukan sekadar wacana di atas kertas.* (mediaindonesia.com)

*)Guru SMA Sukma Bangsa Pidie dan Fasilitator Sekolah Penggerak Angkatan III (2023-2024)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru