Rapim 2026 Ditutup Buka Puasa Bersama, Polda Aceh Tegaskan Komitmen Pelayanan Publik
ACEH BESAR Kapolda Aceh, Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah, M.M., bersama Wakapolda Aceh, Irwasda, para Pejabat Utama (PJU), serta Kapolres
NASIONAL
Oleh: Laksamana Muflih Iskandar Hasibuan, Lc, MAg, M.A.
PENDIDIKAN nasional kita hari ini berada pada persimpangan penting. Di satu sisi, berbagai kebijakan terus didorong untuk meningkatkan mutu akademik, literasi, dan daya saing global.
Di sisi lain, kita dihadapkan pada kenyataan yang tidak kalah serius: menguatnya individualisme, menurunnya kepekaan sosial, serta rapuhnya etika pergaulan di kalangan pelajar.Baca Juga:
Fenomena perundungan, kekerasan di sekolah, dan polarisasi sikap keagamaan menjadi tanda bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membentuk manusia yang utuh.
Dalam konteks inilah, nilai ukhuwah Islamiyah perlu dihadirkan kembali sebagai fondasi pendidikan, bukan sekadar wacana normatif, tetapi sebagai orientasi praksis. Al-Qur'an menegaskan secara lugas, "Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara" (QS Al-Hujurat: 10).
Pernyataan ini tidak bersifat simbolik, melainkan menegaskan bahwa persaudaraan adalah konsekuensi langsung dari iman dan harus tercermin dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan.
Sayangnya, dalam praktik pendidikan, termasuk di sekolah-sekolah Islam, ukhuwah sering berhenti sebagai materi pelajaran atau slogan kegiatan seremonial.
Ia belum sepenuhnya menjelma menjadi budaya sekolah. Akibatnya, kita menyaksikan ironi: sekolah yang religius secara formal, tetapi miskin empati sosial; peserta didik yang terampil menghafal, tetapi gagap membangun relasi yang sehat dengan sesama.
Pendidikan dasar dan menengah sesungguhnya merupakan fase paling menentukan dalam pembentukan karakter. Nilai persaudaraan, empati, dan kepedulian sosial tidak dapat ditanamkan secara instan ketika seseorang telah dewasa.
Ia harus dibiasakan sejak dini, melalui lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan manusiawi. Jika sekolah gagal menjadi ruang aman bagi tumbuhnya ukhuwah, maka peserta didik akan belajar kompetisi yang kering nilai, bahkan konflik, sebagai bagian dari keseharian.
Dalam konteks pendidikan nasional, tantangan ini semakin kompleks dengan kehadiran media digital. Anak-anak dan remaja hari ini tumbuh dalam arus informasi yang deras, sering kali tanpa pendampingan nilai yang memadai.
Polarisasi pandangan, ujaran kebencian, dan sikap eksklusif dengan mudah masuk ke ruang kelas. Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat transmisi pengetahuan, tetapi harus menjadi ruang penjernihan nilai.
ACEH BESAR Kapolda Aceh, Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah, M.M., bersama Wakapolda Aceh, Irwasda, para Pejabat Utama (PJU), serta Kapolres
NASIONAL
JAKARTA Bank Negara Indonesia (BNI) kembali membuka program Kredit Usaha Rakyat (KUR) 2026 untuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
EKONOMI
DENPASAR Gubernur Bali Wayan Koster menerima kunjungan resmi Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Peter Mark Haymond, di Kantor G
PEMERINTAHAN
BANDUNG Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menegaskan pentingnya pembentukan perwira TNI AD yang tidak ha
NASIONAL
JAKARTA Indonesia Corruption Watch (ICW) meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memantau secara khusus 1.179 Satuan Pelayanan Pemenu
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Dari atas, Masjidil Haram tampak tidak sepenuhnya simetris. Bangunannya yang kompleks, berkembang ke berbagai arah, dan tampak o
AGAMA
DENPASAR Kepolisian Daerah Bali menegaskan komitmennya dalam menjaga keamanan jelang perayaan Idul Fitri dan Nyepi melalui Operasi Sikat
HUKUM DAN KRIMINAL
DENPASAR Polda Bali menggelar kegiatan Buka Puasa Bersama dengan elemen mahasiswa seBali dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan 144
NASIONAL
BADUNG Hujan deras disertai angin kencang selama dua hari terakhir menyebabkan luapan air di Kelurahan Seminyak, Kecamatan Kuta, Selasa
PERISTIWA
JAKARTA Vivo dilaporkan tengah menguji smartphone dengan baterai singlecell berkapasitas raksasa, yang tipikalnya bisa menembus 12.000m
SAINS DAN TEKNOLOGI