Kiprah Dar Edi dalam jurnalistik terbilang panjang. Ia kini menjabat Wakil Ketua Dewan Pertimbangan SMSI Pusat, anggota Pokja Pendataan Dewan Pers, serta Wakil Sekretaris Jenderal Confederation of ASEAN Journalists (CAJ).
Di internal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), ia pernah menjadi Wakil Bendahara Umum PWI Pusat dan kini menjabat Bendahara PWI Jaya periode 2023–2028.
Selain itu, Dar Edi memimpin Askara.co sebagai Pemimpin Redaksi dan terpilih sebagai Ketua Umum Forum Pemred Media Siber Indonesia periode 2024–2029.
Penghargaan Pers Card Number One yang diterimanya pada Hari Pers Nasional 2022 ia maknai sebagai tanggung jawab moral, bukan sekadar prestise.
Kiprah Dar Edi juga menjangkau forum internasional. Empat kali menghadiri World Press Freedom Day di Seoul, Korea Selatan, ia membawa perspektif jurnalisme Indonesia ke panggung global. Menurutnya, esensi jurnalisme tetap bertumpu pada integritas pribadi.
"Yang terpenting adalah tetap jujur pada hati, bahkan ketika tidak ada yang melihat," katanya.
Di luar dunia pers, Dar Edi dikenal aktif dalam spiritualitas. Ia merupakan Master Sahaja Yoga sekaligus praktisi hipnoterapi, pernah melatih tenaga dalam Rasa Jati, dan membimbing personel Detasemen Deteksi Paspampres serta Kolinlamil. Baginya, spiritualitas hadir dalam setiap tindakan sehari-hari.
Kecintaannya terhadap alam tumbuh sejak sekolah. Ia mendirikan Elpala SMA 68 Jakarta dan aktif di Top Ranger and Mountain Pathfinder (TRAMP) sejak 1985.
Ia juga menjadi manajer pendakian empat puncak tertinggi dunia bagi pendaki tunadaksa asal Solo, Sabar Gorky. "Gunung mengajarkan kita rendah hati. Hidup adalah tentang ketekunan," ujarnya.
Dalam bidang sosial dan budaya, Dar Edi menggagas Beranda Ruang Diskusi, terlibat dalam Vox Point Indonesia, FORMAS, PERWATUSI, dan menjabat Sekretaris Yayasan Gardu 08 Indonesia.
Pada 4 Desember 2025, ia menginisiasi pagelaran sendratari di Gunung Padang untuk merawat warisan budaya bangsa.
Sebagai umat Katolik, ia aktif dalam pelayanan pastoral di lingkungan TNI-Polri dan merupakan peserta SAGKI 2025. Pada era 1990-an, ia membangun komunitas Karyawan Muda Katolik dan Kelompok Meditasi Keluarga Kudus.
Di balik berbagai jabatan dan aktivitas, Dar Edi tetap memegang prinsip hidup sederhana.
"Hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita capai, tapi seberapa dalam kita memberi," ujarnya. Baginya, pengabdian adalah perjalanan panjang yang dijalani dengan kesunyian, kesetiaan, dan makna.*
(dh)
Editor
: Dharma
Lebih dari 30 Tahun di Pers, Dar Edi Yoga Tetap Setia pada Hati Nurani