MEDAN -Toxic masculinity atau maskulinitas toksik merupakan serangkaian perilaku dan keyakinan yang berakar dari norma gender laki-laki tradisional, namun dibawa secara ekstrem.
Laki-laki seringkali dituntut untuk selalu kuat secara fisik dan emosional, serta tidak boleh menampilkan kerentanan, seperti menangis atau meminta bantuan.
Konsep ini berdampak negatif tidak hanya bagi laki-laki, tetapi juga lingkungan sosial mereka. Namun, ada cara-cara untuk menghadapi dan melawan toxic masculinity.
Berikut 5 cara menghadapi toxic masculinity, dikutip dari PsychCentral dan Anxiety & Depression Association of America:
1. Lawan Pemahaman yang Salah
Menantang norma yang sudah dianggap wajar bisa jadi sulit, namun penting dilakukan. Jika ada teman laki-laki yang enggan pergi ke psikolog karena takut dianggap lemah, cobalah membuka percakapan yang empatik dan mendukung.
2. Dukung Korban Maskulinitas Toksik
Toxic masculinity kerap berdampak pada perempuan dan kelompok rentan lainnya, lewat perundungan, kekerasan, atau diskriminasi. Memberikan dukungan kepada korban sangat penting dalam memutus rantai dampak negatif ini.
3. Terima dan Tawarkan Bantuan
Menolak bantuan karena takut terlihat lemah adalah persepsi yang membahayakan. Laki-laki berhak mendapatkan dukungan mental, emosional, dan sosial. Terbukalah terhadap bantuan dan jangan ragu juga untuk membantu sesama.