Pada perdagangan kemarin, harga emas spot dunia menembus US$5.419,8 per troy ons, melonjak 4,61% dari hari sebelumnya dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Lonjakan harga emas global dipicu ekspektasi pasar terkait masa depan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Gubernur Bank Sentral AS, Jerome "Jay" Powell, diperkirakan tidak lama lagi akan mengakhiri masa jabatannya.
Penggantinya diprediksi akan lebih dovish, mendukung kebijakan moneter longgar yang cenderung menguntungkan aset non-yielding seperti emas.
Dini hari tadi, Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75%.
Namun pasar telah menatap era pasca-Powell, yang diyakini akan mendorong tren kenaikan harga emas sepanjang tahun ini.
"Pelaku pasar sudah melihat era selepas Powell. Gubernur berikutnya mungkin akan jauh lebih dovish. Siapa yang menjadi gubernur akan sangat menentukan gerak harga emas tahun ini," ujar Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy di TD Securities, dikutip Bloomberg.
Menurut Suki Cooper, Global Head of Commodity Research Standard Chartered Plc, tren harga emas masih positif meski ada potensi koreksi jangka pendek.
"Ekspektasi bahwa The Fed akan lebih dovish dan risiko geopolitik akan membuat alokasi investor ke emas meningkat. Di luar koreksi jangka pendek, kami masih melihat potensi kenaikan," kata Suki Cooper.
Dengan momentum ini, emasAntam diperkirakan masih memiliki peluang penguatan, sehingga menjadi pilihan menarik bagi investor yang mencari aset safe haven di tengah ketidakpastian global.*
(bb/ad)
Editor
: Dharma
Harga Emas Antam Tembus Rp3,16 Juta/Gram, Rekor Tertinggi Sepanjang Masa!