JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) dibuka menguat ke Rp16.768 pada perdagangan Rabu (11/2/2026).
Rupiah menguat seiring pergerakan mata uang Asia lainnya, sementara indeks dolar AS tercatat stagnan di level 96,79.
Mengutip data Bloomberg pukul 09.00 WIB, beberapa mata uang kawasan Asia Pasifik juga bergerak bervariasi: yen Jepang naik 0,30%, dolar Hong Kong menguat 0,03%, dolar Singapura naik 0,06%, dolar Taiwan meningkat 0,16%, dan won Korea Selatan menguat 0,13%.
Di sisi lain, yuan China melemah 0,04% dan ringgit Malaysia turun 0,09%, sedangkan baht Thailand menguat 0,22% terhadap dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif sepanjang hari dan berpotensi ditutup melemah pada rentang Rp16.810–Rp16.840 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sentimen domestik maupun global.
"Dari luar negeri, pemerintah AS menyarankan kapal-kapal berbendera AS untuk tetap menjauhi wilayah Iran saat melewati Selat Hormuz dan Teluk Oman, karena risiko diserbu pasukan Iran," ujarnya.
Peringatan tersebut menimbulkan kekhawatiran atas ketegangan AS-Iran yang tetap tinggi, meski kedua negara mencatat kemajuan dalam pembicaraan akhir pekan lalu mengenai program nuklir Teheran.
Selain itu, fokus pasar pekan ini juga tertuju pada data ekonomi dari konsumen minyak terbesar di dunia, yang diperkirakan akan mempengaruhi prospek permintaan energi.
Data non-pertanian dan inflasi indeks harga konsumen AS juga dinilai akan memengaruhi arah suku bunga di masa depan.
Di China, data inflasi konsumen (CPI) dari importir minyak terbesar dunia akan dirilis pada Jumat, menjelang peningkatan perjalanan dan permintaan bahan bakar selama libur Imlek.
Pergerakan rupiah hari ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap risiko geopolitik sekaligus sentimen ekonomi global, yang menjadi faktor utama fluktuasi mata uang domestik.*