JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah pada perdagangan Kamis (12/2/2026).
Mengutip data Bloomberg pukul 09.09 WIB, rupiah turun 0,16% atau 27 poin ke level Rp16.813 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat melemah tipis 0,02% ke 96,81.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.780–Rp16.810 per dolar AS hingga penutupan hari ini.
"Sentimen global saat ini menjadi penentu utama pergerakan rupiah, terutama konflik geopolitik dan kebijakan moneter The Fed," kata Ibrahim.
Menurutnya, data penjualan ritel Amerika Serikat (AS) pada Desember 2025 yang lebih lemah dari perkiraan, memberi sinyal tekanan pada sektor tenaga kerja dan inflasi.
"Melemahnya pengeluaran masyarakat berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi AS, yang pada gilirannya dapat mendorong Federal Reserve menurunkan suku bunga lebih lanjut tahun ini. Hal ini membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS turun, sementara dolar kesulitan pulih," ujarnya.
Selain itu, pasar juga mengamati perkembangan diplomasi antara AS dan Iran.
Pertemuan para diplomat kedua negara di Oman pekan lalu bertujuan menghidupkan kembali negosiasi, menyusul penempatan armada angkatan laut AS di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran akan eskalasi militer.
"Presiden AS Donald Trump bahkan mempertimbangkan pengiriman kapal induk kedua ke wilayah tersebut. Kondisi ini menjadi sentimen global tambahan bagi rupiah," jelas Ibrahim.
Sementara itu, sentimen domestik juga mendukung rupiah, salah satunya melalui Paket Stimulus Ekonomi I-2026.
Paket ini mencakup diskon transportasi, program work from anywhere (WFA), dan bantuan pangan untuk 35,04 juta keluarga penerima manfaat (KPM), dengan masing-masing keluarga mendapatkan 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng per bulan selama dua bulan.
Menurut Ibrahim, stimulus ini diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, memperkuat daya beli masyarakat, dan membantu meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal pertama 2026.