Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Presiden Prabowo dalam Gelar Silaturahmi dan Diskusi Bersama para Tokoh Bangsa, Selasa (03/03/2026). (foto: BPMI Setpres)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Keyakinan itu disampaikan SBY melalui siniar SBY Standpoint di kanal YouTube pribadinya, Rabu (4/3/2026).
"Saya yakin Pak Prabowo, Presiden kita, akan memikirkan dan mempersiapkan dengan baik kalau tekanan ekonomi dan fiskal terjadi karena perang yang seperti ini," ujar SBY.
Menurut SBY, meskipun konflik baru berlangsung beberapa hari, dampaknya sudah terasa pada perekonomian kawasan dan cepat merambat ke tingkat global.
Sektor energi menjadi yang paling terdampak, mengingat kawasan Timur Tengah merupakan sumber utama minyak mentah dan gas alam dunia.
SBY menyoroti peran strategis Selat Hormuz, jalur yang menyumbang sekitar 20 persen total energi global.
"Kalau jalur ini tersumbat, pasokan energi dunia akan terganggu. Hukum ekonomi sederhana: permintaan tetap, supply berkurang, harga pasti meroket. Dalam dua hari ini saja sudah naik USD 20 per barrel," jelasnya.
Ia memperingatkan, jika perang berkepanjangan dan negara OPEC+ tidak meningkatkan produksi, Indonesia, yang kini menjadi net importir minyak dengan produksi sekitar 600.000 barrel per hari, akan menghadapi tekanan berat.
"Kalau harga minyak tembus USD 100–150 per barrel, defisit APBN bisa mencapai ratusan triliun rupiah," katanya.
SBY menekankan, ruang fiskal Indonesia saat ini terbatas karena utang negara meningkat.
Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan subsidi dengan risiko jebolnya APBN atau menaikkan harga BBM dan gas yang berdampak langsung ke masyarakat.
"Langkah antisipatif dan kebijakan ekonomi yang tepat sangat penting agar Indonesia tidak terhuyung-huyung akibat badai global. Sedia payung sebelum hujan, lakukan tindakan preventif dan pengendalian fiskal yang tepat," kata SBY.