BREAKING NEWS
Minggu, 02 Agustus 2026

Menaker Yassierli Tegaskan Pentingnya Hubungan Industrial yang Kolaboratif di Era Digital

Raman Krisna - Jumat, 03 April 2026 14:15 WIB
Menaker Yassierli Tegaskan Pentingnya Hubungan Industrial yang Kolaboratif di Era Digital
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, dalam pembukaan Musyawarah Nasional Tahun 2026 Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan KSPSI di Jakarta, Kamis (2/4/2026). (Foto: Biro Humas Kemnaker)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan bahwa hubungan industrial di Indonesia harus "naik kelas" agar pekerja tidak tertinggal dalam perkembangan pesat teknologi, otomasi, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Menurutnya, hubungan industrial yang hanya sekadar harmonis tidak cukup lagi di tengah perubahan struktur pekerjaan yang terus bergeser akibat digitalisasi.

Pesan tersebut disampaikan oleh Yassierli dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Tahun 2026 Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan (FSP FARKES) KSPSI di Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Baca Juga:

Ia menjelaskan bahwa di era yang penuh tantangan teknologi ini, hubungan industrial harus berkembang menjadi lebih transformatif.

Artinya, bukan hanya menjaga stabilitas atau meredam konflik, tetapi harus menjadi fondasi untuk menciptakan kolaborasi yang saling menguntungkan antara pekerja dan perusahaan.

"Hubungan industrial harus naik kelas. Tidak hanya harmonis, tetapi juga transformatif, di mana pekerja dan perusahaan menjadi mitra strategis yang tumbuh bersama," ujar Yassierli.

Menteri Ketenagakerjaan ini menambahkan bahwa perubahan tersebut sangat mendesak, mengingat dampak digitalisasi yang sudah mempengaruhi hampir seluruh sektor, termasuk sektor kesehatan dan farmasi.

Meskipun teknologi dan AI mempermudah banyak aspek pekerjaan, Yassierli menekankan bahwa inovasi tidak boleh berjalan tanpa mempertimbangkan perlindungan bagi pekerja.

"Ketika dunia berbicara tentang IT, otomasi, dan AI, kita harus memastikan tidak ada pekerja yang tertinggal. No one left behind. Inovasi dan produktivitas harus berjalan seiring dengan perlindungan pekerja," tambahnya.

Menurut Yassierli, hubungan industrial yang matang tidak tercipta dalam waktu singkat. Awalnya, dimulai dari kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan, kemudian berkembang menjadi komunikasi terbuka, konsultasi dalam pengambilan kebijakan, kerja sama dalam penyelesaian masalah, hingga akhirnya menjadi kolaborasi strategis antara pekerja dan perusahaan.

Pada puncaknya, hubungan industrial yang sukses akan menjadikan pekerja sebagai aset strategis perusahaan, bukan hanya sebagai faktor produksi semata.

Dengan cara pandang ini, hubungan industrial tidak hanya berfungsi untuk mencegah perselisihan, tetapi juga untuk memperkuat daya saing perusahaan dan memastikan kesejahteraan pekerja.

"Mimpi saya, semua perusahaan maturitas hubungan industrialnya naik kelas. Yang dulunya tidak ada SP/SB jadi ada SP/SB. Yang tidak ada Perjanjian Kerja Bersama (PKB) jadi punya PKB. Yang sudah punya PKB tapi pasalnya masih kering, sudah ada win-win solution. Naik kelas lagi, mulai berkolaborasi, perusahaan dan pekerja menjadi mitra bersama," jelas Yassierli.

Menaker juga menekankan bahwa peningkatan kesejahteraan pekerja harus selaras dengan peningkatan produktivitas.

Oleh karena itu, hubungan industrial yang sehat harus dibangun dengan semangat saling percaya dan mendengarkan, bukan semata mempertentangkan kepentingan pekerja dan perusahaan.

"Melalui dialog sosial yang mengedepankan gotong royong dan musyawarah mufakat, kita bisa menyelesaikan persoalan hubungan industrial secara adil dan berkelanjutan," ujar Yassierli.

Dalam kesempatan itu, Yassierli berharap serikat pekerja terus memperjuangkan pekerjaan yang adil dan layak sambil mendorong inovasi dan produktivitas dalam cara kerja yang lebih adaptif dan efisien.

Menurutnya, hubungan industrial yang transformatif merupakan kunci utama dalam membawa dunia kerja Indonesia lebih siap menghadapi perubahan menuju Indonesia Maju dan Indonesia Emas.*

(dh)

Editor
: Raman Krisna
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Dubes Iran Pujian Indonesia: Siap Menjadi Fasilitator Perdamaian AS-Iran
Pemerintah Percepat Distribusi Program MBG ke Pesantren, Target 82,9 Juta Penerima
Doakan Kemenangan Iran, Din Syamsuddin: Kita Harus Bersatu Bangun Peradaban Islam Baru
Rosan Roeslani Klaim, Indonesia Jadi Destinasi Utama Investasi Jepang dan Korea Selatan
PIHPS Catat Kenaikan Harga Pangan, Cabai Rawit Merah Tertinggi di Rp119.400/kg
Film Indonesia Tak Sekadar Hiburan, Budi Mulyawan Ungkap Potensi Besar yang Terabaikan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru