BREAKING NEWS
Selasa, 16 Juni 2026

Cadangan Nikel RI Terancam Habis dalam 11 Tahun, Pemerintah Wanti-wanti Produksi Tambang

Dharma - Sabtu, 25 April 2026 20:18 WIB
Cadangan Nikel RI Terancam Habis dalam 11 Tahun, Pemerintah Wanti-wanti Produksi Tambang
Salah satu pekerja di pabrik feronikel Antam di Pomalaa menunjukan feronikel (Foto: Dok. Humas PT Indonesia Asahan Aluminium atau INALUM )
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Cadangan nikel Indonesia diperkirakan bisa habis dalam waktu sekitar 11 tahun jika tidak dikelola secara hati-hati di tengah tingginya tingkat produksi nasional.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno dalam sebuah agenda di Jakarta Selatan, Sabtu (25/4/2026).

Tri menjelaskan, total cadangan nikel Indonesia saat ini berada di kisaran 5,9 miliar ton. Sementara itu, usulan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari perusahaan tambang untuk tahun ini mencapai sekitar 490 juta ton.

Baca Juga:

"Kalau mengikuti RKAB yang diusulkan perusahaan sekitar 500 juta ton per tahun, maka dengan cadangan yang ada, nikel kita bisa habis dalam sekitar 11 tahun," ujar Tri.

Kondisi tersebut dinilai menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk mengontrol produksi sekaligus menjaga keseimbangan antara eksploitasi dan penambahan cadangan sumber daya alam.

Selain soal cadangan, Tri juga menyoroti fluktuasi harga nikel dunia yang cukup tajam dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut harga nikel pernah mencapai US$80.000 hingga US$100.000 per ton, namun pada 2025 turun signifikan ke kisaran US$15.000 per ton.

Menurutnya, kondisi ini memperkuat alasan pemerintah untuk terus mendorong hilirisasi agar Indonesia tidak hanya bergantung pada ekspor bahan mentah.

"Produk hilirisasi lebih stabil dibandingkan komoditas mentah," katanya.

Tri juga mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini menyumbang sekitar 65 persen produksi nikel dunia. Karena itu, kebijakan produksi nasional dinilai sangat berpengaruh terhadap pasar global.

Pemerintah sebelumnya menetapkan pembatasan produksi nikel pada 2026 tidak melebihi 250 juta ton per tahun untuk menjaga keseimbangan pasar dan keberlanjutan industri.

Setelah kebijakan tersebut diumumkan, harga nikel global disebut mulai mengalami kenaikan dari sekitar US$14.800 menjadi mendekati US$18.800 per ton.

"Ini menunjukkan bahwa kebijakan Indonesia punya pengaruh besar terhadap pasar nikel dunia," pungkas Tri.*

Editor
:
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kebakaran Hanguskan Rumah Semi Permanen di Padangsidimpuan, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta
Kapolri Tegaskan Polri Tetap di Bawah Presiden, Jajaran Diminta Perjuangkan “Sampai Titik Darah Penghabisan”
KAJIAN YURIDIS PT NDP SELAKU ANAK PERUSAHAAN PTPN II (II-Habis)
Gubernur Sumut Bobby Nasution Sidak RSU Haji Medan, Temukan Masalah Pelayanan dan Obat Habis
Ambulans Tak Bisa Jalan, Keluarga Terpaksa Angkut Jenazah Pakai Mobil Pickup di Tengah Hujan
Antrean Panjang di Tanjung Duren, Warga Kecewa Stok Elpiji 3 Kg Habis
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru