BREAKING NEWS
Sabtu, 13 Juni 2026

Minyakita Langka di Sumut: Ketimpangan Distribusi Jadi Biang Kerok, Stok Aman

Abyadi Siregar - Selasa, 28 April 2026 15:18 WIB
Minyakita Langka di Sumut: Ketimpangan Distribusi Jadi Biang Kerok, Stok Aman
Minyak goreng kemasan sederhana merek Minyakita. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bergerak cepat merespons kelangkaan minyak goreng kemasan sederhana merek Minyakita yang masih terjadi di sejumlah daerah.

Pemerintah menilai persoalan utama bukan pada ketersediaan stok, melainkan ketimpangan distribusi di lapangan.

Langkah tersebut dibahas dalam rapat koordinasi di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro, Medan, Selasa, 28 April 2026.

Baca Juga:

Rapat melibatkan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan ESDM Sumut, Perum Bulog, serta sekitar 20 produsen minyak goreng dan unsur BUMN pangan.

Kepala Kanwil Bulog Sumut, Budi Cahyanto, mengatakan kelangkaan Minyakita masih dirasakan masyarakat meski pemerintah pusat menyatakan stok nasional aman.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya masalah pada distribusi.

"Yang menjadi persoalan adalah distribusinya belum merata," ujar Budi.

Ia menjelaskan, alokasi distribusi saat ini terbagi antara Bulog sebesar 35 persen dan produsen sekitar 65 persen melalui jaringan distributor lini pertama (D1).

Namun, menurutnya, porsi tersebut belum sepenuhnya mengalir ke pasar secara optimal.


Budi juga menekankan pentingnya transparansi data dari produsen terkait distribusi di masing-masing pabrik agar pengawasan lebih efektif.

Saat ini, stok Minyakita yang dikelola Bulog di Sumatera Utara tercatat sekitar 400 ribu liter. Jumlah tersebut dinilai belum mencukupi kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah provinsi.

"Perlu tambahan pasokan dari porsi produsen agar distribusi lebih seimbang," katanya.

Selain distribusi, Budi menyoroti kebijakan distribusi lintas wilayah yang mewajibkan pasokan Minyakita menjangkau daerah non-produsen seperti Aceh.

Kebijakan ini dinilai berdampak pada berkurangnya pasokan di Sumut, yang merupakan salah satu sentra produksi kelapa sawit nasional.

"Seharusnya daerah penghasil bisa diprioritaskan," ujarnya.

Persoalan harga juga menjadi sorotan. Di sejumlah daerah seperti Samosir, harga Minyakita masih melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).

Biaya distribusi ke wilayah terpencil menjadi salah satu penyebab kenaikan harga di tingkat konsumen.

Bulog membeli Minyakita dari produsen seharga Rp13.500 per liter dan menjual ke pengecer maksimal Rp14.500.

Margin yang tipis dinilai menyulitkan distribusi ke wilayah dengan akses logistik terbatas.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan ESDM Sumut, Dedi Jaminsyah Putra Harahap, menegaskan pemerintah daerah akan memperketat pengawasan distribusi bersama Bulog.

"Kolaborasi dengan Bulog menjadi kunci agar distribusi menjangkau seluruh wilayah Sumatera Utara," ujarnya.

Ia memastikan pemerintah akan terus mendorong produsen untuk menyalurkan Minyakita sesuai ketentuan agar pasokan tidak tersendat dan harga dapat kembali stabil di pasar.*


(sp/ad)

Editor
:
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Dituding Gagal sebagai Wali Kota, Ini Respons Rico Waas ke DPRD
Momen Bersejarah, UNA Lahirkan Guru Besar Pertama Setelah 40 Tahun Berdiri
Respon Cepat Aduan Warga di Medsos, Pemko Medan Tutup Lubang Besar di Jalan Raden Saleh dalam Sehari!
Tak Sekadar Seremoni, Rico Waas Ingin May Day 2026 Harus Jadi Momentum Kesejahteraan Buruh
Waket Komisi XIII DPR Tinjau Stok Beras di Sumut, Soroti Keterbatasan Gudang Bulog dan Distribusi Pangan
Bahlil Pastikan Pasokan Energi Nasional Aman di Tengah Gejolak Geopolitik Global, BBM dan Crude Oil Di Atas Standar
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru