BANTEN– Acara perpisahan siswa yang seharusnya menjadi momen penuh suka cita, justru berubah menjadi polemik di SDN 1 Parakanbeusi, Kecamatan Bojongmanik, Kabupaten Lebak, Banten.
Daftar anggaran kegiatan perpisahan dan kenaikan kelas sekolah tersebut viral di media sosial dan menimbulkan pertanyaan besar publik.
Dalam unggahan akun Instagram @brorondm, terungkap rincian anggaran sebesar Rp 30,2 juta untuk 218 siswa yang meliputi sejumlah pos kontroversial.
Yang paling disorot publik adalah alokasi dana untuk rokok tamu sebesar Rp 2 juta, gula kopi dan air sebesar Rp 1,5 juta, serta amplop tamu undangan Rp 1 juta.
"Ini bagaimana konsepnya ada anggaran rokok untuk acara perpisahan anak SD?" tulis pemilik akun @brorondm.
Rincian lain dalam anggaran meliputi:
Tenda panggung: Rp 4,5 juta
Sound sistem: Rp 2,5 juta
Upacara adat: Rp 3,5 juta
Makan 50 orang: Rp 2 juta
Secara total, setiap siswa dibebani Rp 138.532, belum termasuk biaya kelulusan Rp 100.000 untuk siswa kelas 6 yang mencakup medali, pas foto, legalisir ijazah, dan penulisan dokumen kelulusan.
Meskipun secara nominal biaya dibagi cukup ringan per siswa, banyak pihak menilai beberapa pos pengeluaran tidak relevan, apalagi dalam konteks acara sekolah dasar.
Kritik juga datang dari netizen yang menilai pembelanjaan seperti rokok sama sekali tidak etis dalam acara yang seharusnya fokus pada anak-anak.
Komentar sarkastik bermunculan, seperti akun @ricoamirullah.hidayat yang menulis, "Rokok untuk tamu, sangat perhatian sekali ya kepada para tamu." Sementara akun lain menyindir, "Lu yang ngerokok, orang yang suruh bayar."
Fenomena seperti ini bukan hal baru. Hampir setiap tahun ajaran baru berakhir, biaya perpisahan sekolah sering memicu kontroversi, terutama jika tidak disusun secara transparan dan partisipatif.
Perlu Evaluasi dan Transparansi
Pengamat pendidikan dan sejumlah orang tua menyerukan pentingnya forum diskusi terbuka antara pihak sekolah dan komite agar rencana anggaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan semua wali murid.
Kepala sekolah juga diminta lebih sensitif terhadap dampak beban biaya bagi keluarga yang kurang mampu.
Perpisahan siswa seharusnya menjadi kenangan manis, bukan menambah tekanan ekonomi. Semua pihak diharapkan dapat menyusun kegiatan yang berkesan namun tetap rasional dan inklusif secara anggaran.*