Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyatakan bahwa ISPA menjadi penyakit dengan jumlah kunjungan tertinggi di puskesmas.
Penyakit ini mudah menular melalui droplet dan partikel aerosol sehingga membutuhkan kewaspadaan tinggi dari masyarakat.
Pakar epidemiologi dan kesehatan global, Dicky Budiman, menjelaskan lonjakan ISPA dipengaruhi oleh kombinasi cuaca ekstrem, perilaku masyarakat, dan buruknya kualitas udara.
"Fenomena kemarau basah dan perubahan pola musim berpengaruh secara tidak langsung pada penyebaran virus penyebab ISPA," ujarnya saat dihubungi, Kamis (23/10/2025).
Dicky menambahkan, fluktuasi suhu dan kelembapan berperan dalam stabilitas virus di udara. Virus penyebab ISPA cenderung bertahan lebih lama di kondisi kering dan dingin.
Selain itu, perubahan perilaku masyarakat yang lebih banyak menghabiskan waktu di ruang tertutup dengan ventilasi buruk meningkatkan risiko penularan.
Ia juga mengingatkan penurunan disiplin masyarakat pascapandemi, seperti menurunnya kepatuhan penggunaan masker, etika batuk, dan kebiasaan mencuci tangan yang sempat menjadi protokol kesehatan utama.
Faktor kepadatan penduduk, keterlambatan vaksinasi influenza dan pneumonia, serta kualitas udara dalam ruangan yang buruk juga memperburuk situasi.