Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
TAPANULI SELATAN – Kondisi lingkungan di kawasan aliran anak Sungai Sibio-bio, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Tapanuli Selatan, memprihatinkan.
Warga setempat mengeluhkan perubahan kualitas air, kebun yang tidak lagi produktif, serta kemunculan kayu gelondongan yang terbawa arus sungai saat hujan deras.
Baca Juga:
Sejumlah warga menyebut, perubahan mulai terasa dalam beberapa tahun terakhir, seiring meluasnya aktivitas tambang emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources (PTAR).
Air sungai yang sebelumnya jernih kini kerap keruh, berbau, dan diduga mengandung zat kimia dari kawasan tambang.
"Dulu air bisa langsung dipakai untuk kebun dan ternak. Sekarang baunya aneh, warnanya berubah. Tanaman padi tidak tumbuh normal, karet mengering, sayuran mati sebelum panen," kata seorang warga Sosopan yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Selain persoalan air, warga menyoroti kemunculan kayu gelondongan yang terbawa arus sungai.
Kayu-kayu tersebut diduga berasal dari kawasan hulu aliran Sungai Sibio-bio yang berbatasan dengan area tambang emas Martabe.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara menilai kerusakan lingkungan dan banjir bandang yang melanda wilayah Sumatera Utara, Aceh, hingga Sumatera Barat bukanlah murni bencana alam, melainkan akibat masifnya aktivitas industri ekstraktif.
Direktur Eksekutif Walhi Sumut, Rianda Purba, menyebut kerusakan ekosistem Batang Toru sebagai akumulasi kebijakan yang memberi ruang luas bagi perusahaan pengeruk sumber daya alam.
Sorotan kini tertuju pada PTAR.
Organisasi lingkungan Satya Bumi menyebut ekspansi tambang emas Martabe seluas 603,21 hektare di wilayah curam meningkatkan risiko banjir bandang dan longsor.
Bukaan lahan di dalam konsesi perusahaan diduga menjadi jalur limpasan air ke anak Sungai Garoga, hingga bermuara ke wilayah terdampak banjir seperti Desa Garoga dan Huta Godang.
Perdebatan soal
kayu gelondongan juga mencuat.
Kepala Desa Anggoli menegaskan kayu-kayu tersebut mustahil berasal dari area PT Tri Bahtera Srikandi, melainkan kemungkinan dari sekitar Pit Ramba Joring, yang berdekatan dengan area tambang Martabe.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan operasional Tambang Emas Martabe sempat dihentikan pascabanjir dan meminta perusahaan fokus membantu korban bencana.
Baca Juga:
Pemerintah juga masih meninjau lokasi untuk memastikan keterkaitan aktivitas tambang dengan banjir.
Hingga kini, warga di sepanjang aliran Sungai Sibio-bio menunggu investigasi menyeluruh terkait dugaan pencemaran air, asal kayu gelondongan, dan dampak aktivitas tambang terhadap lingkungan dan ruang hidup masyarakat.
"Yang kami mau sederhana. Air kembali bersih, kebun bisa hidup lagi, dan tidak ada lagi banjir membawa kayu dari hulu," ujar seorang warga.*
(dh)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.