BREAKING NEWS
Selasa, 17 Maret 2026

Rahadi Wangsapermana: Literasi Kebangsaan Kunci Hadapi Ancaman Perang Modern

gusWedha - Selasa, 17 Maret 2026 11:23 WIB
Rahadi Wangsapermana: Literasi Kebangsaan Kunci Hadapi Ancaman Perang Modern
Rahadi Wangsapermana, alumnus Desain Produk Institut Teknologi Bandung angkatan 1989. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Di tengah arus informasi digital yang deras dan ketegangan geopolitik global, Rahadi Wangsapermana muncul sebagai salah satu pemikir yang konsisten mengangkat isu perang asimetris, intelijen, dan wawasan kebangsaan.

Tulisan-tulisannya menjadi rujukan penting bagi masyarakat yang ingin memahami konflik modern yang kini tak lagi sekadar konfrontasi militer konvensional.

Rahadi merupakan alumnus Desain Produk Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1989. Latar belakangnya yang unik ini justru memberinya perspektif berbeda dalam memahami dinamika konflik global.

Baca Juga:

"Negara harus dipahami sebagai sebuah sistem besar yang perlu dirancang ketahanannya, bukan sekadar dipertahankan secara reaktif," ujarnya.

Dalam analisisnya, Rahadi menekankan bahwa perang modern hadir dalam bentuk halus dan sulit dikenali.

Manipulasi opini publik, tekanan ekonomi, infiltrasi budaya populer, hingga permainan regulasi menjadi instrumen yang kerap digunakan untuk melemahkan negara tanpa peperangan fisik.

Pendekatan desain yang ia pelajari di ITB—meliputi pemikiran sistemik, pemetaan pola, analisis aktor, hingga mitigasi risiko berbasis kesadaran kolektif—digunakan Rahadi untuk membaca ancaman-ancaman non-konvensional.

Ia menegaskan bahwa pertahanan negara tidak hanya tugas militer, melainkan kerja sama lintas sektor: akademisi, jurnalis, pelaku usaha, hingga masyarakat sipil, sebagai bagian dari ekosistem ketahanan nasional.

Selain strategi dan pertahanan, Rahadi juga menyoroti pentingnya literasi kebangsaan. Ia menilai rendahnya pemahaman masyarakat terhadap konteks geopolitik membuka celah bagi pengaruh destruktif dari dalam maupun luar negeri.

Menurut Rahadi, kesadaran kolektif adalah kunci untuk menjaga kedaulatan bangsa di era ancaman yang tidak selalu kasatmata.

Dengan berbagai tulisannya yang diterbitkan di media daring, Rahadi Wangsapermana mengajak masyarakat untuk lebih waspada, rasional, dan terlibat aktif dalam menjaga ketahanan bangsa—sebuah konsep pertahanan modern yang dirancang bukan hanya dari pangkalan militer, tetapi dari pemahaman dan aksi kolektif seluruh elemen bangsa.*

(dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kepergian Agus Widjojo, Figur Militer yang Menjunjung Profesionalisme dan Supremasi Sipil
Tokoh Intelegensia Kristen Berkumpul, Natal PIKI Bali Jadi Momentum Iman dan Persaudaraan
Luhut Pandjaitan: Apa Pentingnya Ijazah? Yang Terpenting Kontribusi untuk Negara
Bung Karno Dihormati Dunia karena 4 Peran Besar, Ini Penjelasan Ketua Dewan Pakar MPKSDI Muhammadiyah
Born to Rule: Prabowo, Sumitro, dan Takdir Sejarah
Shohibul: Dekolonisasi Pemikiran dan Rekonstruksi Asketisme Intelektual, Tantangan Besar Dunia Kampus dan Bangsa
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru