JAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, mengungkapkan bahwa korupsi sering kali terjadi akibat kondisi "lapar spiritual" yang dialami oleh beberapa individu.
Menurutnya, kesenjangan dalam pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk ketahanan pangan, dapat mempengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang, termasuk dalam hal mengambil keputusan yang salah.
Pernyataan ini disampaikan Muhadjir dalam keterangan persnya saat memberikan penjelasan terkait khotbah Idul Fitri 1447 H yang ia sampaikan.
Salah satu poin penting dalam khotbah tersebut adalah pentingnya ketahanan pangan sebagai salah satu faktor penentu kemajuan bangsa.
"Sekarang sedang didorong tentang food security, karena kita tahu bahwa persoalan yang paling utama itu adalah soal makan," ujarnya, di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Jumat (20/3/2026).
Muhadjir menegaskan bahwa dalam konteks ketahanan pangan, kebutuhan dasar seperti makan merupakan hal yang paling mendasar untuk menjamin kesejahteraan masyarakat.
Lebih lanjut, Muhadjir menjelaskan bahwa ketika perut sudah kenyang, pikiran akan lebih fokus dan terbuka untuk berpikir dengan jernih.
Sebaliknya, ketika seseorang berada dalam keadaan lapar, baik secara fisik maupun spiritual, dorongan untuk mencari cara memenuhi kebutuhan tersebut bisa mendorong tindakan yang salah, seperti korupsi.
"Jadi, kenyang dulu baru berpikir. Orang kalau berpikir dalam keadaan lapar, nanti yang dipikir bagaimana kenyang," tuturnya.
"Termasuk korupsi itu adalah orang-orang yang berpikir karena keadaan-keadaan lapar, lapar dalam arti spiritual," tambahnya.
Muhadjir juga mengaitkan Idul Fitri dengan refleksi spiritual yang penting dilakukan setiap umat Islam.
Ia melihat bahwa perayaan hari raya Idul Fitri bukan hanya sebagai waktu untuk bersilaturahmi, tetapi juga sebagai momen untuk melakukan evaluasi diri dan memperbaiki kondisi mental dan spiritual.