Laga terakhir babak penyisihan Grup C melawan Myanmar, Jumat (12/12) malam di Stadion 700th Anniversary, menjadi penentu apakah Garuda Muda melangkah ke semifinal atau harus pulang lebih cepat.
Setelah menelan kekalahan tipis 0-1 dari Filipina, peluang Indonesia untuk lolos kini bergantung pada performa sendiri, karena faktor hasil grup lain menjadi sekunder.
"Hasil Vietnam vs Malaysia memberi harapan, tapi kemenangan besar atas Myanmar mutlak diperlukan," ujar pengamat sepak bola nasional Gita Suwondo.
Kemenangan dengan margin tiga gol atau lebih menjadi syarat utama untuk membuka peluang lolos sebagai runner-up terbaik.
Namun, analis menyoroti permasalahan tim Indonesia: kreativitas serangan yang minim dan ketajaman dalam penyelesaian akhir belum memadai.
"Shot on target hanya tercipta melalui tendangan jarak jauh, dan pembukaan ruang di 1/3 lapangan lawan sangat terbatas karena zona pertahanan Filipina," tambah Suwondo.
Ini menunjukkan bahwa Garuda Muda harus menghadirkan permainan yang berbeda dari dua laga sebelumnya untuk menembus pertahanan Myanmar.
Myanmar sendiri, meski secara teori lebih ringan dibanding Filipina, merupakan lawan sulit ditebak.
Dalam Piala AFF 2024, Indonesia hanya menang melalui gol bunuh diri pemain Myanmar.
Kedua tim sama-sama mengandalkan banyak pemain muda, yang membuat hasil akhir sulit diprediksi.
Situasi ini menuntut Timnas U22 Indonesia menunjukkan keberanian, kreativitas, dan ketajaman yang belum pernah terlihat pada laga-laga awal.