KontraS Soroti Minim Transparansi, Ragu Peradilan Militer Ungkap Motif Penyiraman Air Keras
JAKARTA Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan meragukan proses peradilan militer mampu mengungkap motif di balik kasus pen
HUKUM DAN KRIMINAL
Oleh:Partaonan Harahap,ST.,MT
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bukan hanya sekadar kebutuhan di dunia industri, tetapi juga telah menjadi kebutuhan dasar di lingkungan pendidikan, terutama di sekolah-sekolah kejuruan dan teknis yang memiliki risiko tinggi.
Dengan semakin kompleksnya aktivitas di sekolah, serta beragamnya risiko yang mungkin terjadi, penting untuk mengintegrasikan kurikulum K3 sejak dini.
Keterlibatan berbagai stakeholder, termasuk pihak sekolah, pemerintah, industri, orang tua, dan siswa itu sendiri, menjadi kunci dalam mengembangkan kurikulum K3 yang aplikatif dan kontekstual dengan dunia kerja yang nyata.
Kegiatan belajar mengajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sering kali melibatkan praktik langsung di laboratorium, bengkel, dan kegiatan lapangan, yang membuka potensi bahaya seperti kecelakaan kerja.
Data dari Kemendikbudristek menunjukkan bahwa insiden kecelakaan siswa saat praktik masih terjadi setiap tahunnya, menandakan adanya kebutuhan mendesak untuk penguatan kurikulum K3 agar siswa tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memahami pentingnya keselamatan kerja.
Keselamatan siswa bukan hanya tanggung jawab sekolah semata, tetapi juga melibatkan berbagai elemen dalam ekosistem pendidikan, sehingga pendekatan kolaboratif antara stakeholder sangat diperlukan.
Sekolah memiliki posisi sentral dalam penyusunan dan pelaksanaan kurikulum K3. Kepala sekolah dan guru berperan utama dalam mengarahkan visi dan budaya keselamatan di lingkungan pendidikan.
Dalam proses ini, penting bagi sekolah untuk melakukan audit risiko secara berkala, membentuk tim satgas K3, dan mengintegrasikan K3 dalam semua mata pelajaran praktik.
Namun, peran sekolah tetap terbatas jika tidak mendapat dukungan dari stakeholder lain, sehingga kolaborasi lintas sektor menjadi sangat penting.
Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan dan instansi terkait, memegang tanggung jawab dalam merumuskan kebijakan dan regulasi yang mendukung integrasi K3 dalam kurikulum nasional.
Pemerintah perlu menetapkan standar K3 pendidikan yang spesifik, mengalokasikan anggaran untuk pelatihan dan infrastruktur K3 di sekolah, serta menyediakan pelatihan K3 untuk guru dan tenaga pendidik.
Sinergi antara Kemendikbud dan Kementerian Ketenagakerjaan menjadi sangat penting, karena keselamatan siswa bukan hanya urusan pendidikan, tetapi juga urusan ketenagakerjaan masa depan mereka.
Dunia industri juga memiliki peran penting dalam mendukung kurikulum K3 di sekolah, terutama dalam memberikan pembekalan nyata mengenai budaya keselamatan kerja.
Dunia industri dapat terlibat dengan menyediakan pelatihan atau workshop K3, menjadi mitra praktik kerja lapangan, memberikan donasi alat pelindung diri (APD), dan membantu merancang modul-modul K3 yang kontekstual.
Selain itu, orang tua juga berperan dalam membangun kesadaran di rumah, mendorong anak untuk selalu memakai APD, dan memonitor kegiatan PKL anak mereka.
Siswa, sebagai subjek dan objek kurikulum K3, harus dilibatkan dalam program K3 untuk membentuk budaya sadar keselamatan.
Keterlibatan siswa dapat dilakukan dengan membentuk kelompok peduli K3, mengadakan lomba-lomba bertema keselamatan, dan melibatkan siswa dalam evaluasi K3.
Kolaborasi multi-stakeholder menjadi kunci keberhasilan dalam merancang dan menjalankan kurikulum K3, di mana tidak ada satu stakeholder pun yang dapat berjalan sendiri dalam mewujudkan lingkungan belajar yang aman dan sehat.
Dengan demikian, keterlibatan stakeholder dalam kurikulum K3 tidak hanya membentuk siswa yang selamat secara fisik, tetapi juga membentuk karakter tangguh, disiplin, dan bertanggung jawab.
Ini adalah investasi jangka panjang yang manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu siswa, tetapi juga oleh masyarakat dan dunia kerja.
Sudah saatnya K3 tidak hanya menjadi pelengkap dalam sistem pendidikan, tetapi menjadi fondasi, karena pada akhirnya, siswa yang sadar akan keselamatan adalah siswa yang sadar akan masa depannya.*
*) Dosen Fakultas Teknik UMSU,Sekretaris LPCR-PM PWM Sumut, Wakil Ketua Lembaga Pelatihan Kerja Teknik Indonesia (LPKTI) dan Ketua Umum Assosiasi Alumni Teknologi Teladan Medan.
JAKARTA Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan meragukan proses peradilan militer mampu mengungkap motif di balik kasus pen
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Pakar digital forensik Rismon Sianipar angkat bicara terkait laporan yang dilayangkan Wakil Presiden ke10 dan 12 RI Jusuf Kalla k
POLITIK
JAKARTA Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan tiga warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi anak buah kapal (ABK) di kapal MV Gol
INTERNASIONAL
MEDAN Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menyaksikan langsung ajang Sprint Rally Sumut 2026 yang menjadi seri pembuka Kejuaraan Nasi
OLAHRAGA
JAKARTA Presiden RI Prabowo Subianto mengajak masyarakat untuk lebih bangga terhadap budaya Indonesia dan tidak merasa rendah diri terhada
POLITIK
JAKARTA Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa progres uji coba program biodiesel 50 persen (
EKONOMI
JAKARTA Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menilai digitalisasi dalam penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dapat menjadi s
NASIONAL
JAKARTA Menteri Luar Negeri RI Sugiono buka suara terkait namanya yang disebutsebut menguat sebagai calon Ketua Umum Ikatan Pencak Silat
NASIONAL
JAKARTA Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mendorong agar aspek kesehatan mental menjadi bagian inti dalam kurikulum pendidikan nasional
NASIONAL
JAKARTA Presiden RI Prabowo Subianto mengungkap perjalanan panjang pencak silat yang kini menjadi identitas bangsa dan semakin dikenal dun
SENI DAN BUDAYA