BREAKING NEWS
Jumat, 20 Maret 2026

Rondahaim Saragih Garingging: Sang Penjaga Kedaulatan Adat yang Terhapus dari Panggung Nasional

BITV Admin - Minggu, 10 Agustus 2025 20:23 WIB
Rondahaim Saragih Garingging: Sang Penjaga Kedaulatan Adat yang Terhapus dari Panggung Nasional
Shohibul Anhsor Siregar (foto: ist)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Pertama, sentralisme Jawa dalam wacana kebangsaan pascakolonial. Pemimpin seperti Rondahaim—yang memperjuangkan kedaulatan adat berbasis kosmologi lokal, bukan nasionalisme modern—dianggap tidak sejalan dengan narasi integrasi negara kesatuan.

Kedua, warisan misionaris RMG yang memutus transmisi sejarah lisan melalui kristenisasi massif (1860–1900). Generasi terdidik sekolah misionaris hanya mengenalnya sebagai "pemberontak yang dikalahkan".

Ketiga, penghilangan bukti fisik: pusaka Kerajaan Raya seperti Pustaha Simalungun (1387) dan mahkota emas dirampas Belanda ke Tropenmuseum Amsterdam, menghapus jejak material legitimasinya.

Rehabilitasi melalui Dekolonisasi

Kongres Adat Simalungun (2022) menganugerahinya gelar Pangulu ni Partuanan (Pemimpin Kedaulatan), mengoreksi distorsi sejarah. Prasasti di Gua Siatas—tempat ia mengajar aksara Batak selama pengasingan—kini menjadi situs edukasi. Arkeolog UI (2021) menemukan residu tinta emas dari suratnya di gua tersebut, membantah mitos "primitivisme".

Dalam konteks keindonesiaan, ketokohannya sejajar dengan Sultan Hasanuddin atau Pattimura. Anthony Reid (2012) dalam The Blood of the People menegaskan: Rondahaim's resistance was a sophisticated defense of ecological sovereignty(Perlawanan Rondahaim adalah pembelaan canggih atas kedaulatan ekologis) (hlm. 207). Pengabaian terhadapnya mencerminkan kegagalan historiografi nasional mengakui keragaman model perlawanan nusantara.

Rondahaim wafat dalam pengasingan tahun 1891, tetapi sahala-nya—kekuatan spiritual kosmologi ginjang-tonga-toru—hidup melalui ritual mangalap sahala yang masih dipraktikkan di Dolok Tolong. Sekolah Adat Simalungun menjadikan surat emasnya sebagai kurikulum inti, mengajarkan bahwa perlawanan sejati bermula dari pengetahuan, aksara, dan kesadaran ekologis.

Ndang metmet sahala, molo metmet do halak

(Tak padam kekuatan, selama hidup rakyat)

—Prasasti Lobang Taneh Dolok Tolong (1887)

Mengembalikan Rondahaim ke panggung sejarah bukan sekadar koreksi masa lalu, melainkan pengakuan bahwa kedaulatan Indonesia dibangun dari beragam episentrum perlawanan—termasuk dari raja penjaga keseimbangan langit, manusia, dan bumi di Dolok Tolong.*

Penulis adalah dosen FISIP UMSU

Editor
: Redaksi
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru