AHY Tegaskan Aktivitas Demokrat Bukan Manuver Politik, Fokus Kawal Pemerintahan Prabowo
JAKARTA Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa intensitas kegiatan partainya yang belakangan menin
POLITIK
Oleh: Mohsen Hasan A.
RESHUFFLE kabinet yang baru saja diumumkan kembali menghadirkan riuh di ruang publik. Media sosial, ruang diskusi kampus, hingga warung kopi diramaikan komentar. Ada yang menyambut baik, tetapi lebih banyak yang menghujat. Seolah-olah keputusan Presiden sepenuhnya salah, dan seakan-akan masyarakat menuntut hadirnya pemimpin sempurna, tanpa cela, tanpa cacat.
Temukan lebih banyak
Padahal, politik dan pemerintahan tidak pernah bekerja di ruang steril. Selalu ada kalkulasi, kompromi, pertarungan kepentingan, bahkan keterbatasan manusiawi. Menuntut kesempurnaan pemimpin sama saja dengan menuntut malaikat turun memimpin bangsa.
Menghujat Lebih Mudah daripada Memimpin
Fenomena penghujat di masyarakat bukan hal baru. Dalam psikologi sosial ini disebut negativity bias: kecenderungan manusia lebih cepat melihat kesalahan ketimbang kebaikan. Seorang menteri bekerja berbulan-bulan tanpa sorotan, tetapi sekali salah langkah, langsung menjadi bahan cemoohan.
Kritik tentu penting, bahkan mutlak diperlukan dalam demokrasi. Namun, ketika kritik berubah menjadi hujatan membabi buta, yang terjadi adalah hilangnya rasionalitas publik. Kita menjadi bangsa yang gemar mencari kambing hitam, bukan solusi.
Secara moral, menghakimi tanpa memberi jalan keluar adalah bentuk ketidakadilan. Kita lupa bahwa setiap kata hujatan bukan hanya melukai pribadi, tetapi juga meruntuhkan semangat kolektif bangsa yang sedang berjuang.
Ilusi Pemimpin Sempurna
Masyarakat sering lupa bahwa kesempurnaan hanya milik Tuhan. Para nabi dan rasul pun diuji, apalagi pemimpin politik yang manusia biasa. Dalam sejarah dunia, tidak ada satu pun pemimpin yang benar-benar sempurna. Soekarno dengan kharismanya, Mandela dengan kebijaksanaannya, Lincoln dengan keberaniannya—semuanya tetap menuai kritik keras di masanya.
Yang dibutuhkan bukanlah pemimpin tanpa salah, melainkan pemimpin yang:
- Mau belajar dari kesalahan,
- Rendah hati untuk mendengar kritik,
- Konsisten menjaga integritas, dan
- Berani mengambil keputusan meski tidak populer.
Moral politik mengajarkan bahwa yang kita perlukan bukan kesempurnaan, melainkan kejujuran dan niat tulus. Seorang pemimpin yang salah tetapi mau mengakui dan memperbaiki diri, jauh lebih mulia daripada pemimpin yang pandai menutupi kekeliruan.
Belajar Dewasa: Tugas Politisi dan Masyarakat
Politik adalah seni kemungkinan, bukan seni kesempurnaan. Reshuffle kabinet, misalnya, tidak pernah bisa menyenangkan semua pihak. Ada pertimbangan partai, ada kalkulasi kinerja, ada tekanan global. Politisi yang dewasa paham bahwa setiap keputusan punya harga, punya risiko, dan tidak semua bisa dijelaskan ke publik secara terbuka.
Sementara masyarakat yang dewasa seharusnya berhenti mencari malaikat dalam politik. Yang perlu dilakukan adalah mengawal, mengawasi, dan memberi masukan konstruktif. Demokrasi sehat lahir bukan dari hujatan, tetapi dari dialog kritis yang rasional dan bermoral.
Dari sisi moralitas bangsa, kedewasaan berarti berani menahan diri dari sikap apriori, dan mengubah energi kritik menjadi energi solusi. Dengan begitu, kita tidak sekadar menjadi pengamat, tetapi ikut bertanggung jawab membangun negeri.
Penutup: Politik yang Membawa Harapan
Pemimpin bukan malaikat. Mereka adalah manusia dengan segala keterbatasan. Namun, justru di situlah nilai perjuangan: bagaimana di tengah kekurangan, mereka tetap berusaha memberi yang terbaik.
Bagi akademisi, ini panggilan untuk memperkuat literasi politik agar publik tidak mudah terjebak pada emosionalitas. Bagi politisi, ini pengingat bahwa jabatan adalah amanah, bukan panggung pribadi.
Bagi kader partai, ini saatnya mengusung gagasan, bukan sekadar kursi.
Moral tertinggi dalam politik adalah keberpihakan kepada rakyat. Maka bangsa ini tidak butuh pemimpin sempurna, tetapi pemimpin yang jujur, berani, dan konsisten. Dan yang lebih penting, bangsa ini juga butuh masyarakat dan politisi yang dewasa—yang sadar bahwa perubahan besar lahir dari kerja sama, bukan hujatan.* (mediaindonesia.com)
*) Penulis adalahPemerhati Sosial, Politik, Budaya & Isu Global, Dewan Pakar DPP Partai NasDem.
JAKARTA Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa intensitas kegiatan partainya yang belakangan menin
POLITIK
JAKARTA Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menggelar WalkIn Interview sebagai langkah percepatan pertemuan langsung antara pencari
EKONOMI
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan intensif dengan presiden dan wakil presiden terdahulu, ketua umum partai politik,
NASIONAL
BANDUNG Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam menjalankan politik luar negeri bebas
NASIONAL
JAKARTA Wardatina Mawa mengungkap kekecewaan dan trauma yang kembali muncul saat menjalani pemeriksaan sebagai saksi atas laporan akses
ENTERTAINMENT
GIANYAR Kapolres Gianyar, Candra C. Kesuma, S.I.K., M.H., menghadiri kegiatan Buka Puasa Bersama Harmoni Ramadhan yang digelar di Taman
NASIONAL
BANDA ACEH Pemerintah Aceh akan menggelar malam Nuzulul Qur&039an pada Jum&039at, 6 Maret 2026, bertempat di Masjid Raya Baiturrahma
PEMERINTAHAN
MEDAN Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumatera Utara, Sulaiman Harahap, menghadiri rapat dengar pendapat (RDP) bersama K
PEMERINTAHAN
MEDAN Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja dalam membangun
PEMERINTAHAN
JAKARTA Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memastikan peringatan Nuzulul Quran 17 Ramadan 1447 H akan dilaksanakan di Istana Negara.
AGAMA