BREAKING NEWS
Senin, 23 Maret 2026

Refleksi Hari Pahlawan: Ancaman dari Pengkhianatan Anak Bangsa Sendiri

T.Jamaluddin - Senin, 10 November 2025 13:27 WIB
Refleksi Hari Pahlawan: Ancaman dari Pengkhianatan Anak Bangsa Sendiri
DR.Nursanjaya Abdullah adalah Akademisi UNIMAL, Lho' Seumawe Praktisi Dakwah Aceh. Pengamat Sosial Politik (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

LHO'SEUMAWEHari Pahlawan bukan sekadar peringatan untuk mengenang jasa para pejuang kemerdekaan, tetapi juga momen refleksi bagi bangsa ini. DR.

Nursanjaya Abdullah, Dosen UNIMAL Lho' Seumawe, menyoroti luka yang ditinggalkan pengkhianatan anak bangsa dalam sejarah perjuangan Indonesia, mulai dari Diponegoro hingga Cut Nyak Dhien.

Dalam tulisan refleksinya yang diterbitkan Segaris.

Baca Juga:

Co, Nursanjaya menekankan bahwa banyak kemenangan pahlawan Indonesia tidak lepas dari ujian internal: pengkhianatan oleh bangsanya sendiri.

Ia mencontohkan Pangeran Diponegoro yang dikhianati hingga ditangkap di Magelang, Sultan Hasanuddin yang kalah karena kompromi bangsawan lokal dengan VOC, dan Perang Padri yang terpecah akibat konflik internal.

"Di Aceh, kisah kepahlawanan Teungku Chik di Tiro dan Cut Nyak Dhien juga menyimpan luka akibat pengkhianatan," tulis Nursanjaya. Ia menjelaskan bahwa pengkhianatan bukan hanya soal kekalahan fisik, tetapi juga retaknya solidaritas dan melemahnya perjuangan karena kepentingan pribadi sebagian elite.

Lebih lanjut, Nursanjaya menegaskan bahwa pengkhianatan tidak berhenti setelah kemerdekaan.

Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan pengkhianatan terhadap nilai moral menjadi bentuk baru yang mengancam integritas bangsa.

Menurutnya, refleksi sejarah ini penting agar bangsa Indonesia belajar dari masa lalu dan mencegah munculnya pengkhianatan generasi kini.

"Kita yang hidup sekarang memikul tanggung jawab untuk menjaga sejarah agar tak berulang dalam bentuk baru. Mengenang pahlawan bukan sekadar upacara simbolis, tetapi panggilan menegakkan integritas, menolak korupsi, menumbuhkan keberanian moral, dan membangun solidaritas," tegas Nursanjaya.

Pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya loyalitas dan integritas untuk memastikan bahwa perjuangan bangsa tidak runtuh karena retaknya barisan dari dalam.

Refleksi ini menjadi pengingat bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang sedikit pengkhianatnya.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru