Makna Spiritual Idul Fitri: Jangan Hanya Pakaian Baru dan Hidangan, Lakukan Muhasabah
BANDA ACEH Mudir Pondok Tahfizd Ihya&039ul Qur&039an (PTIQ) Blang Oi, Ustaz Abdurrahim Abu Zubaidah, mengajak umat Islam tidak hanya
AGAMA
LHO'SEUMAWE – Hari Pahlawan bukan sekadar peringatan untuk mengenang jasa para pejuang kemerdekaan, tetapi juga momen refleksi bagi bangsa ini. DR.
Nursanjaya Abdullah, Dosen UNIMAL Lho' Seumawe, menyoroti luka yang ditinggalkan pengkhianatan anak bangsa dalam sejarah perjuangan Indonesia, mulai dari Diponegoro hingga Cut Nyak Dhien.
Dalam tulisan refleksinya yang diterbitkan Segaris.Baca Juga:
Co, Nursanjaya menekankan bahwa banyak kemenangan pahlawan Indonesia tidak lepas dari ujian internal: pengkhianatan oleh bangsanya sendiri.
Ia mencontohkan Pangeran Diponegoro yang dikhianati hingga ditangkap di Magelang, Sultan Hasanuddin yang kalah karena kompromi bangsawan lokal dengan VOC, dan Perang Padri yang terpecah akibat konflik internal.
"Di Aceh, kisah kepahlawanan Teungku Chik di Tiro dan Cut Nyak Dhien juga menyimpan luka akibat pengkhianatan," tulis Nursanjaya. Ia menjelaskan bahwa pengkhianatan bukan hanya soal kekalahan fisik, tetapi juga retaknya solidaritas dan melemahnya perjuangan karena kepentingan pribadi sebagian elite.
Lebih lanjut, Nursanjaya menegaskan bahwa pengkhianatan tidak berhenti setelah kemerdekaan.
Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan pengkhianatan terhadap nilai moral menjadi bentuk baru yang mengancam integritas bangsa.
Menurutnya, refleksi sejarah ini penting agar bangsa Indonesia belajar dari masa lalu dan mencegah munculnya pengkhianatan generasi kini.
"Kita yang hidup sekarang memikul tanggung jawab untuk menjaga sejarah agar tak berulang dalam bentuk baru. Mengenang pahlawan bukan sekadar upacara simbolis, tetapi panggilan menegakkan integritas, menolak korupsi, menumbuhkan keberanian moral, dan membangun solidaritas," tegas Nursanjaya.
Pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya loyalitas dan integritas untuk memastikan bahwa perjuangan bangsa tidak runtuh karena retaknya barisan dari dalam.
Refleksi ini menjadi pengingat bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang sedikit pengkhianatnya.
Refleksi Hari Pahlawan kali ini mengajak masyarakat Indonesia untuk melihat sejarah dengan kacamata moral dan patriotisme, mengingatkan bahwa semangat kepahlawanan harus terus hidup melalui keberanian, integritas, dan solidaritas di tengah tantangan zaman modern.*
(dh)
BANDA ACEH Mudir Pondok Tahfizd Ihya&039ul Qur&039an (PTIQ) Blang Oi, Ustaz Abdurrahim Abu Zubaidah, mengajak umat Islam tidak hanya
AGAMA
BANDA ACEH Ribuan warga Banda Aceh dan sekitarnya memadati jalanjalan protokol kota untuk mengikuti Pawai Takbir Idul Fitri 1447 Hijria
NASIONAL
PADANGSIDIMPUAN Ribuan masyarakat Kelurahan Ujung Padang, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, memad
NASIONAL
MEDAN Memasuki hari kedua Idul Fitri 1447 Hijriah, Minggu (22/03/2026), Plaza Medan Fair dipadati pengunjung yang ingin menghabiskan wak
NASIONAL
ACEH TAMIANG Presiden Prabowo Subianto melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah bersama warga di Masjid Darussalam, Desa Simpang Empat
NASIONAL
ACEH TAMIANG Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemulihan pascabencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, telah mencapai
NASIONAL
ACEH TAMIANG Presiden Prabowo Subianto melaksanakan Salat Idul Fitri di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu, 21 Maret 2026. Kehadiran Pr
NASIONAL
PADANGSIDIMPUAN Ribuan warga memadati Masjid Agung Al Abror, Padangsidimpuan, Sumatera Utara, untuk melaksanakan Salat Idul Fitri, Sabtu
NASIONAL
BANDA ACEH Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau dikenal Mualem, membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada warga melalui timnya di Meuligo
NASIONAL
ACEH TAMIANG Menutup bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, SE, bersama Menteri Dalam Negeri RI, Tito Karnavi
PEMERINTAHAN