BREAKING NEWS
Kamis, 19 Maret 2026

Perbedaan Drastis Antara Suara Real Count dan Quick Count, Tanda-tanda Kecurangan Pemilu?

BITVonline.com - Jumat, 08 Maret 2024 05:23 WIB
Perbedaan Drastis Antara Suara Real Count dan Quick Count, Tanda-tanda Kecurangan Pemilu?
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA -Seiring dengan berjalannya proses pemungutan suara pada Pemilu 2024, suara PSI (Partai Solidaritas Indonesia) menjadi sorotan setelah mencatat lonjakan yang signifikan dalam beberapa hari terakhir. Namun, pernyataan dari Direktur Eksekutif Populi Center, Afrimadona, menggugah kekhawatiran akan keabsahan hasil perhitungan suara secara keseluruhan.

Menurut Afrimadona, hasil perolehan suara Pemilu 2024 yang diprediksi tidak akan jauh berbeda dari hasil quick count yang telah dilakukan oleh sejumlah lembaga survei. Dengan perbedaan suara yang diperkirakan hanya sekitar 1 persen, sesuai dengan margin of error (MoE) yang lazim dalam kontestasi politik, keberadaan hasil quick count yang konsisten menimbulkan pertanyaan akan keabsahan hasil akhir.

“Pernyataan tersebut muncul sebagai respons atas perolehan suara PSI yang dipandang sebagai anomali, dengan perolehan suara yang naik secara signifikan dalam waktu singkat,” ungkap Afrimadona.

Sebelumnya, perolehan suara PSI sempat mencatat peningkatan tajam dari hanya sekitar 2,8 persen pada Jumat (1/3), menjadi 3,13 persen pada Selasa (5/3). Namun, setelah KPU menghilangkan data grafik perolehan suara di Sirekap, hasil perhitungan cepat Populi Center menunjukkan bahwa PSI hanya memperoleh 2,62 persen suara.

Afri menekankan bahwa dengan margin of error sekitar 1 persen, suara PSI tidak mencapai ambang batas 4 persen yang diperlukan untuk lolos ke parlemen. Selain itu, ia menjelaskan bahwa hasil quick count biasanya baru bisa dipatahkan apabila terdapat perbedaan antara dua hingga tiga lembaga survei yang kredibel.

“Secara historia, selama ini belum pernah hasil quick count berbeda terlalu jauh dengan real count, rata-rata sama,” tegasnya.

Namun demikian, Slamet J. P, Koordinator Pusat Data Quick Count Litbang Kompas, menambahkan bahwa secara umum, hasil quick count seharusnya tidak jauh berbeda dengan real count KPU. Ia menjelaskan bahwa salah satu fungsi quick count adalah untuk mengontrol penghitungan suara dan memberikan prediksi awal.

Dengan kontroversi ini, kekhawatiran akan potensi kecurangan dalam Pemilu 2024 semakin menguat. Sebagai negara demokratis, kepercayaan publik terhadap integritas proses demokrasi menjadi hal yang mendasar. Oleh karena itu, transparansi dan akuntabilitas dalam proses perhitungan suara menjadi kunci untuk memastikan keabsahan hasil akhir dan memelihara kepercayaan masyarakat terhadap institusi demokratis.

(K/09)

0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru