TAPANULI SELATAN – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Sumatera Utara memasang empat unit kamera jebak atau camera trap di Desa Perkebunan, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Pemasangan ini dilakukan setelah muncul dugaan keberadaan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di area perkebunan setempat.
Petugas BKSDA Wilayah III Sumut, Irwan, menjelaskan pemasangan kamera trap bertujuan memastikan keberadaan satwa liar tersebut sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat.
"Dari hasil analisis jejak, diduga kuat merupakan harimau sumatera. Untuk memastikan dan demi kenyamanan masyarakat, kami memasang empat unit kamera trap di lokasi yang dicurigai," ujar Irwan, Jumat (19/12/2025).
Dua titik kamera berada di seberang Jalan Kantor Afdeling IV Malombu, lokasi di mana karyawan kebun Irfan dan pekerja jalan Jonhari mengaku melihat harimau berkeliaran.
Irfan melihat harimau dari jarak sekitar 15 meter, sedangkan Jonhari mengaku melihat induk harimau bersama anaknya saat melakukan rehabilitasi jalan di area perkebunan.
Kamera trap dipasang selama 14 hari terhitung sejak 18 Desember 2025 untuk memastikan apakah jejak yang ditemukan benar milik satwa liar dilindungi tersebut.
Selain itu, BKSDA juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan berkoordinasi dengan pemerintah desa agar warga tetap waspada namun tidak panik dalam beraktivitas.
"Masyarakat diminta tidak bekerja sendiri ke kebun, tidak berangkat terlalu pagi dan tidak pulang terlalu sore. Selain itu, dianjurkan membuat suara keras seperti memukul benda tertentu agar satwa menjauh," tambah Irwan.
Sementara itu, Kepala Desa Perkebunan, Julianto, mengapresiasi langkah cepat BKSDA dalam menenangkan keresahan warga.
"Pasca ditemukannya jejak kaki yang diduga satwa liar serta pengakuan warga yang bertemu langsung, masyarakat merasa takut dan aktivitas terganggu. Dengan pemasangan kamera trap ini, kami berharap ada kepastian dan warga kembali merasa aman," ujar Julianto.*