BREAKING NEWS
Sabtu, 19 September 2026

Sawah Tertimbun Lumpur 1,5 Meter, Petani Tapsel Terdesak Kerja Serabutan Demi Sambung Hidup

Dharma - Sabtu, 19 September 2026 12:33 WIB
Sawah Tertimbun Lumpur 1,5 Meter, Petani Tapsel Terdesak Kerja Serabutan Demi Sambung Hidup
Seorang warga duduk di antara tumpukan kayu yang menghancurkan rumahnya di Desa Aek Bontar, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, Jumat (30/01). (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

TAPANULI SELATAN, — Sedikitnya 185 hektare areal persawahan di Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, terdampak banjir bandang yang terjadi pada 25 November 2025. Kerusakan lahan membuat sebagian warga kehilangan sumber penghasilan dan hingga kini harus mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Data Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Batangtoru mencatat lahan persawahan yang terdampak tersebar di Desa Garoga, Pulau Godang (Telo), Aek Ngadol, Sumuran, Hapesong Baru dan Wek I Batangtoru.

Koordinator BPP Batangtoru Eri Syahruddin mengatakan lahan pertanian di sejumlah wilayah tersebut tertimbun material banjir berupa lumpur, pasir, batu hingga batang kayu.

Baca Juga:

"Ketebalan lumpur antara 80 sentimeter hingga 150 sentimeter sehingga menyulitkan pola tanam padi," kata Eri, Sabtu (19/9/2026).

Kondisi tersebut membuat sebagian sawah belum dapat kembali digunakan untuk menanam padi. Namun, sejumlah petani masih berupaya memanfaatkan lahan yang memungkinkan dengan menanam jagung, kacang-kacangan dan tanaman lainnya.

Sementara petani yang lahannya belum dapat digarap kembali harus mencari sumber penghasilan lain. Sebagian warga memilih bekerja serabutan karena lahan pertanian yang sebelumnya menjadi sumber utama pendapatan belum kembali produktif.

Kepala Desa Garoga Risman Rambe mengatakan kerusakan sawah dan kebun berdampak langsung terhadap kehidupan warga. Menurutnya, sebagian masyarakat kehilangan mata pencaharian setelah lahan mereka tertimbun material banjir.

"Saya juga miris. Mau bilang apa lagi, sawah dan kebun sudah tidak bisa digarap atau belum produktif lagi. Mata pencarian mereka sudah hilang. Sementara mereka dan keluarga ingin hidup," kata Risman.

Menurut Risman, warga berusaha bertahan dengan mengambil berbagai pekerjaan yang dapat menghasilkan pendapatan. Namun, pekerjaan serabutan tidak selalu tersedia sehingga belum mampu menggantikan penghasilan dari pertanian.

Sebagian penyintas bahkan terlihat berdiri di sekitar jembatan Desa Garoga sambil menadahkan kardus kepada kendaraan yang melintas. Lokasi tersebut berada di jalur yang menghubungkan Kota Padangsidimpuan dengan Sibolga.

Bagi warga yang melakukan hal tersebut, pemberian dari pengguna jalan menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah sumber penghasilan dari sawah dan kebun terhenti.

Banjir bandang yang menerjang kawasan Batangtoru pada 25 November 2025 memang telah surut. Namun, dampaknya masih dirasakan warga, terutama mereka yang kehilangan lahan pertanian.

Kebutuhan sehari-hari seperti pangan, kebutuhan rumah tangga hingga biaya sekolah anak tetap harus dipenuhi. Karena itu, pemulihan pascabencana bagi masyarakat tidak hanya berkaitan dengan surutnya banjir dan pembersihan material, tetapi juga mengembalikan lahan pertanian agar dapat kembali menjadi sumber penghidupan.* (k/dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Wapres Gibran: Pemerintah Percepat Pembangunan Huntap agar Warga Dapat Tempat Tinggal Layak dan Aman
Gibran Pastikan Huntap Korban Banjir Garoga dan Huta Godang Dibangun September 2026
Dua Hari Tertimbun Longsor, Ibu dan Anak di Tapsel Ditemukan Tewas
Hujan Deras Picu Longsor di Batangtoru, Ibu dan Anak Diduga Tertimbun Material Tanah
Kondisi Sungai Batangtoru Memburuk, Tradisi Marpangir dan Mamasu Dahanon Terancam Hilang
Tumpukan Tanah Longsor Masih Menumpuk, Warga Kampung Durian Desak PTPN IV Bertanggung Jawab
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru