BREAKING NEWS
Sabtu, 30 Agustus 2025

Petani Sergai Protes, Bulog Sumut Diduga Beli Gabah di Bawah Harga Standar Pemerintah

Abyadi Siregar - Rabu, 27 Agustus 2025 16:08 WIB
Petani Sergai Protes, Bulog Sumut Diduga Beli Gabah di Bawah Harga Standar Pemerintah
Petani di Serdang Bedagai, Provinsi Sumut sedang panen. (foto: ist)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

SERGAI-Para petani di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Provinsi Sumut, terutama di Kecamatan Tanjung Beringin mengeluh. Mereka protes harga gabah siap penen di daerah itu, di bawah standar yang ditetapkan Presiden RI Prabowo Subianto sebesar Rp 6.500/Kg.

Sesuai Inpres Nomor 6 tahun 2025 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah/Beras Dalam Negeri Serta Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah, telah ditetapkan harga gabah siap penen sebesar Rp 6.500/Kg.

Namun di Kabupaten Sergai, harga gabah siap panen yang dibayar kepada petani hanya Rp 6.250 sampai Rp 6.300 per kilogram. Ini dibenarkan Zulpan (35), salah seorang petani di Desa Pematang Cermai, Kecamatan Tanjung Beringin, Senin (25/8).

Baca Juga:

Zulpan yang sedang panen, kepada wartawan menuturkan, harga gabah yang dipanen dengan sabitan treser atau komben, dijual kepada pihak Badan Urusan Logistik (Bulog) dengan harga Rp 6.350/Kg. Sedang harga jual kepada agen lainnya hanya seharga Rp 6.250/Kg.

"Kalau gabah yang dipanen dengan alat odong-odong, dibeli pihak Bulog dengan harga Rp 6.450/Kg. Kalau dijual kepada pihak agen yang lain harganya hanya Rp 6.400/Kg," kata Zulfan.

Baca Juga:

Zulfan mengaku sangat kecewa kepada Bulog yang membeli gabah siap panen dari petani tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan presiden melalui Inpres Nomor 6 tahun 2025.

Harga pembelian gabah oleh pemerintah (Bulog) itu, menurutnya, sangat merugika petani. Pengelolaan lahan persawahan serta perawatan padi hinga panen, katanya, mengeluarkan modal besar dan diperkirakan mencapai Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu per rante.

"Itu untuk biaya jetor, menamping, menanam, obat-obatan, pupuk subsidi urea, phoska yang harga kepada petani mencapai Rp 140 ribu sampai Rp 160 ribu per sak," jelasnya.

Ia berharap pemerintah dapat menstabilkan kembali harga gabah sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan, supaya para petani tidak merasa dirugikan.

Sementara itu, Darianto (40), salah seorang petani warga Desa Nagur, Kecamatan Tanjung Beringin yang ditemui wartawan saat panen, Selasa (16/8), menyampaikan hal sama. Ia mengaku menjual gabah hasil dipanennya hanya Rp 6.250/Kg yang menggunakan alat sabit komben. Sedang untuk gabah yang dipanen dengan alat odong-odong yang diambil oleh agen lain Rp 6.400/Kg.

"Ada apa ini? Apakah beda harga gabah di Sumatera Utara dengan provinsi lainnya di Indonesia," ujar Darianto dengan dana kecewa. Ia juga menambahkan, harga pupuk subsidi urea dan phoska yang dipakai untuk pengelolaan padi, mencapai Rp 140 ribu sampai Rp 260 ribu per sak.

"Kita juga minta kepada pemerintah agar pestisida diberikan subsidi kepada para petani. Sebab saat ini harga pestisida cukup tinggi di pasaran (kios pupuk)," harapnya.*

Editor
: Redaksi
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Bulog Sumut Beli Gabah Petani di Bawah Harga Standar: Ini Kejahatan
Wacana Beras Satu Harga, Ombudsman RI: Tak Sentuh Akar Permasalahan
Mentan Amran Sebut Harga Beras Turun di 13 Provinsi
Janji Mentan: Harga Beras Turun Menjelang Akhir Tahun?
Ditpolairud Polda Sumut Salurkan 5 Ton Beras Murah dalam Gerakan Pangan untuk Warga Sekitar Mako
Bulog Sumut Perkuat Stok Beras, Terima Tambahan 4.000 Ton dari Aceh
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru