JAMBI — Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, meresmikan Penataan Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi dan Purna Pugar sejumlah candi penting, termasuk Candi Parit Duku, Candi Gedong I, Mandapa dan Gapura Candi Tinggi, Candi Alun-Alun, serta Candi Teluk 1, Kamis (18/12/2025).
Peresmian ini ditandai dengan penandatanganan prasasti sebagai simbol komitmen pemerintah dalam melindungi dan memajukan kebudayaan melalui pelestarian serta pengembangan kawasan cagar budaya.
Fadli Zon menekankan bahwa KCBN Muarajambi merupakan salah satu kawasan cagar budaya terpenting di Indonesia, sekaligus warisan peradaban dunia.
Kawasan ini diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berperan sebagai pusat pembelajaran dan kompleks pendidikan keagamaan berskala besar.
"Muarajambi ini luar biasa. Luasnya mencapai sekitar 3.950 hektar dan terdiri atas kurang lebih 115 struktur candi. Dari temuan arkeologis, kawasan ini berkembang sejak abad ke-6 hingga abad ke-13," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (19/12/2025).
Hingga saat ini, pemugaran telah dilakukan pada 12 candi, dan pemerintah berencana mempercepat pemugaran situs utama dengan prinsip keaslian, ilmiah, serta pengawasan ketat para ahli arkeologi dan sejarah.
Fadli Zon juga membuka peluang skema public-private partnership dalam proses revitalisasi.
Selain pemugaran, penataan kawasan dilakukan seluas 150 hektar, mencakup pembangunan jalan penghubung, normalisasi kanal, fasilitas pendukung, dan ruang aktivitas budaya yang melibatkan masyarakat lokal.
Program ini juga bertujuan memperkuat ekosistem ekonomi dan budaya, termasuk dukungan terhadap UMKM, ekonomi kreatif, pengelolaan perahu kanal, pasar dusun, hingga rencana konsep living museum pada awal 2026.
Muarajambi memiliki signifikansi global. Beberapa tokoh besar Buddhisme, seperti Atisha, Dharmakirti, dan Satyakirti, tercatat pernah menimba ilmu di kawasan ini.
Fakta sejarah berupa prasasti tembaga abad ke-9 menunjukkan hubungan dengan pusat pembelajaran Nalanda di India, menegaskan Muarajambi sebagai jaringan intelektual dunia yang lebih awal dari Nalanda.
Hadir dalam peresmian tersebut Gubernur Jambi Al Haris, Ketua Umum WALUBI Hartati Murdaya, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, serta jajaran pemerintah daerah dan Kementerian Kebudayaan.