BREAKING NEWS
Minggu, 09 Agustus 2026

Tari “Dayang Nan Tujuh” Bawa Kosmologi Melayu Deli ke Festival Bedhayan VI di Jakarta

Abyadi Siregar - Minggu, 09 Agustus 2026 09:47 WIB
Tari “Dayang Nan Tujuh” Bawa Kosmologi Melayu Deli ke Festival Bedhayan VI di Jakarta
Pertunjukan tari “Dayang Nan Tujuh” dalam Festival Bedhayan ke-6 Tahun 2026 yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta pada 8 Agustus 2026. (foto: Pemko Medan)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA senian-jakarta/" target="_blank">Gedung Kesenian Jakarta menjadi ruang perjumpaan beragam ekspresi seni tradisi dalam Festival Bedhayan ke-6 Tahun 2026 yang digelar pada 8 Agustus 2026.

Sebanyak 16 pertunjukan ditampilkan dalam festival yang mengusung tema "Memayu Hayuning Bawana", falsafah Jawa yang bermakna menjaga keharmonisan dan keseimbangan dunia.

Pembukaan festival diawali dengan pemanggilan sejumlah tokoh Nusantara yang dikenal memiliki kepedulian terhadap pelestarian dan pengembangan kebudayaan.

Baca Juga:

Salah satu tokoh yang hadir disebut Rico Tri Putra Bayu Waas, Wali Kota Medan, yang turut memberikan perhatian terhadap keberlangsungan kebudayaan sebagai bagian penting dari identitas masyarakat.

Sebagian besar pertunjukan dalam festival tersebut menampilkan corak filosofis Jawa yang kuat.

Nuansa kosmologi Jawa hadir melalui gerak tari, seni suara, dan musik yang membangun suasana pertunjukan.

Namun, di antara rangkaian penampilan tersebut, sebuah karya dari Medan tampil dengan warna berbeda.

Pertunjukan itu adalah "Dayang Nan Tujuh", karya yang dibawakan sanggar binaan Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan.

Pertunjukan tersebut membuat suasana senian-jakarta/" target="_blank">Gedung Kesenian Jakarta seketika hening.

Setelah pertunjukan berakhir, keheningan itu berubah menjadi tepuk tangan panjang dan bergemuruh dari penonton.

"Dayang Nan Tujuh" bukan sekadar pertunjukan tari.

Karya tersebut membawa kearifan lokal Melayu Kota Medan yang menjadi salah satu akar penting dalam perjalanan sejarah dan identitas kota.

Dalam pertunjukan itu, konsep Dayang Nan Tujuh ditempatkan dalam ruang ritus dan sakralitas kemelayuan.

Tujuh anak dara tampil sebagai sosok dayang yang merepresentasikan petala langit dalam pemahaman Melayu klasik sekaligus penjuru bumi dalam anasir kosmologi Melayu klasik.

Dalam kepercayaan tradisional, tujuh dayang tersebut dikisahkan akan dilengkapi menjadi delapan dengan kehadiran unsur dari alam halus.

Konsep tersebut menjadi simbol hubungan dan keseimbangan antara manusia, alam, dan jagat kosmologi yang diyakini dalam tradisi Melayu.

Nuansa sakral diperkuat dengan penggunaan sejumlah properti ritual, seperti sirih dan setanggi.

Para penari mengenakan kebaya labuh dan sanggul Melayu sehingga menghadirkan gambaran perempuan Melayu dalam ruang tradisi.

Pertunjukan semakin kuat dengan kehadiran sinandong dedeng Deli yang disusun dalam tujuh bait.

Musik pengiring menggunakan gaya sinandong lama dengan instrumen tradisional Melayu, antara lain gendang dua muka, pakpung, dol, ketipung, canang, serunai, bangsi, arbab, dan gong.

Perpaduan gerak, suara, musik, properti, busana, serta suasana ritus membuat "Dayang Nan Tujuh" tidak hanya menjadi tontonan.

Pertunjukan itu membawa penonton memasuki gambaran kebudayaan Melayu Deli yang lebih tua dan dalam.

Pertunjukan "Dayang Nan Tujuh" dipimpin M. Muhar Omtatok yang sekaligus menjadi narasumber dan penulis sinandong.

Tata tari dipercayakan kepada Mateus Suwarsono, sedangkan tata musik digarap Zumaidi Abdullah.

Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan turut memberikan dukungan sejak tahap persiapan hingga pertunjukan berlangsung.

Respons penonton dan para pelaku seni menjadi catatan tersendiri.

Seusai acara, sejumlah pakar tari dan seni pertunjukan berkumpul untuk membicarakan pertunjukan tersebut.

Mereka menilai "Dayang Nan Tujuh" menghadirkan sesuatu yang jarang ditemui dalam pertunjukan Melayu kontemporer, yakni dimensi sakral yang terasa utuh.

Selama ini, tari Melayu lebih sering hadir sebagai pertunjukan hiburan.

"Dayang Nan Tujuh" menawarkan kemungkinan lain dengan menjadikan tari sebagai medium untuk membaca kembali hubungan manusia, alam, leluhur, dan ruang kosmologis.

Salah satu respons datang dari Elly D. Luthan, koreografer senior yang menyaksikan pertunjukan tersebut.

Dengan suara bergetar dan air mata yang tak tertahan, Elly mengungkapkan kekagumannya.

"Saya menemukan sakralitas tari Melayu yang benar-benar matang dalam Dayang Nan Tujuh. Saat sinandong itu, saya tidak bisa menahan tangis. Saya dibawa ke alam Deli beberapa abad lalu. Saya kagum atas pertunjukan ini."

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan "Dayang Nan Tujuh" tidak hanya berada pada koreografi dan musik.

Pertunjukan ini dinilai mampu menghadirkan atmosfer kebudayaan yang membuat penonton seolah tidak sekadar menyaksikan tari, tetapi memasuki kembali ruang ingatan kolektif masyarakat Melayu Kota Medan.

Kehadiran "Dayang Nan Tujuh" dalam Festival Bedhayan VI menjadi penting karena menunjukkan bagaimana tradisi lokal dapat berdialog dengan tradisi Nusantara lainnya tanpa kehilangan identitas.

Di tengah festival yang dominan menghadirkan kelembutan kosmologi Jawa, karya dari Medan membawa kosmologi Melayu Deli dengan bahasa artistiknya sendiri.

Perbedaan tersebut tidak menjadi alasan untuk mempertentangkan satu tradisi dengan tradisi lainnya.

Sebaliknya, keberagaman itu memperlihatkan bahwa Nusantara dibangun oleh banyak pengetahuan lokal yang memiliki cara berbeda dalam memandang hubungan manusia dengan alam dan semesta.

"Dayang Nan Tujuh" akhirnya tidak hanya menjadi pertunjukan dari Medan.

Karya tersebut menjadi pernyataan kebudayaan bahwa tradisi Melayu Medan masih memiliki ruang untuk berbicara di panggung nasional dengan bahasa yang tua, sakral, lembut, sekaligus relevan.

Di senian-jakarta/" target="_blank">Gedung Kesenian Jakarta, tepuk tangan penonton menjadi penanda bahwa ketika sebuah tradisi dipahami dari akar terdalamnya, kebudayaan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga dapat menyentuh hati masyarakat lintas zaman dan latar budaya.* (ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kebakaran Gunung Bromo Makin Meluas, Seluruh Pintu Masuk Wisata Ditutup Total
Prakiraan Cuaca Jawa Barat Hari Ini, Minggu 9 Agustus 2026: Seluruh Wilayah Cerah Berawan, Suhu Capai 34 Derajat Celsius
Komisi III DPR Soroti Kematian Mantan Istri Anggota Polri di Medan, Polda Sumut dan Keluarga Dipanggil Selasa
Rico Waas Minta IPSM Medan Tak Sekadar Organisasi Sosial, Harus Berdampak bagi Masyarakat!
Mohammad Noer, Mentor Prabowo yang Dikenal sebagai “Gubernurnya Rakyat Kecil”
Memaknai HUT ke-81 RI, Wali Kota Medan Rico Waas Tekankan Pelayanan Publik dan Pembangunan SDM
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru