BREAKING NEWS
Kamis, 16 April 2026

Jumlah Korban Keracunan Makan Bergizi Gratis di Bandung Barat Tembus 1.333 Siswa

- Kamis, 25 September 2025 17:41 WIB
Jumlah Korban Keracunan Makan Bergizi Gratis di Bandung Barat Tembus 1.333 Siswa
Suasana penanganan korban keracunan di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (24/9/2025). (foto: kumparan)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
BANDUNG BARAT – Kasus keracunan massal akibat konsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus bertambah. Hingga Kamis (25/9/2025), total korban telah mencapai 1.333 siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA.

Kasus ini pertama kali mencuat pada Senin (22/9), ketika belasan siswa SMK Pembangunan di Cipongkor mengalami gejala keracunan usai menyantap menu MBG. Tak berselang lama, laporan serupa berdatangan dari berbagai sekolah di wilayah Cipongkor dan Cihampelas.

Kepala Puskesmas Cipongkor, Yuyun Sarihotimah, menyebut 730 pasien baru tercatat hingga Rabu (24/9) malam.

Baca Juga:
"Kasus yang baru dari kemarin Rabu ada 730 orang," ujar Yuyun.

Dari klaster Cipongkor, dapur SPPG Cipari Makmur Jaya menjadi sumber distribusi makanan yang diduga penyebab keracunan. Total korban dari klaster ini mencapai 411 siswa.

Sementara klaster Cihampelas muncul sehari setelahnya, dengan 192 siswa terdampak. Dapur yang memasok makanan untuk klaster ini berbeda dengan klaster Cipongkor.

Posko Cipongkor masih menangani 5 siswa dengan gejala pusing, mual, dan sesak napas.

Di Cihampelas, Kapolsek Cililin AKP Andriani menyebut 113 siswa sudah dinyatakan sembuh, sedangkan 75 lainnya dirujuk ke RSUD Cililin, RS Kharisma Cimareme, RS Dustira, hingga beberapa klinik lokal.

Data medis yang dihimpun menunjukkan gejala korban beragam, antara lain:

110 siswa mengalami pusing

99 siswa mual

24 siswa sakit perut

20 siswa muntah

19 siswa lemas

18 siswa sesak napas

13 siswa sakit tenggorokan

4 siswa diare

3 siswa demam

2 siswa sakit kepala

Hingga kini, pihak berwenang masih menyelidiki penyebab pasti keracunan massal ini. Dugaan sementara mengarah pada kualitas makanan MBG dan rantai distribusi dari dapur penyedia. Dinas kesehatan dan kepolisian sudah mengambil sampel makanan dan melakukan uji laboratorium.

Kasus ini menambah daftar panjang insiden terkait MBG, setelah sebelumnya juga dilaporkan temuan belatung dalam makanan di SMKN 2 Jambi dan sejumlah laporan gejala serupa di Palembang.

Publik dan aktivis pendidikan meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, termasuk standar keamanan pangan, pengawasan dapur, serta penyaringan penyedia jasa katering.*

(j006)

Editor
:
0 komentar
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru