MALUKU -Keputusan yang mendadak dan tanpa pemberitahuan dari panitia seleksi Paskibraka Nasional telah mengguncang harapan Kristianie Lumatalale dari SMA Negeri 3 Seram Bagian Barat, Maluku. Seorang siswi berprestasi yang sebelumnya diumumkan lolos dengan nilai tertinggi di tingkat Provinsi Maluku, harus rela namanya dicoret dan digantikan oleh orang lain menjelang keberangkatan ke Jakarta untuk mengikuti seleksi nasional.
Kristianie, bersama tiga temannya, telah meraih pencapaian gemilang dalam proses seleksi, hanya untuk kemudian dihadapkan pada ketidakadilan yang menyakitkan. Ibu Kristianie, Loce Wattimena, mengekspresikan kekecewaannya yang mendalam terhadap penyelenggara seleksi yang tidak transparan dalam prosesnya.
“Anak saya sudah dinyatakan lolos tapi tiba-tiba namanya dicoret dan digantikan dengan orang lain. Saya sebagai orangtua sangat kecewa sekali,” ujar Loce Wattimena, melalui laporan yang dikutip dari TribunJabar.com.
Pada awalnya, Kristianie dan teman-temannya—Cleo Faldy Ririhena, Riska Dwi Latuconsina, dan Aril Lestaluhu—merupakan empat peserta terbaik yang dipersiapkan untuk mewakili Maluku dalam upacara peringatan HUT ke-79 Republik Indonesia di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Namun, keputusan tiba-tiba tersebut tidak hanya mengecewakan Kristianie dan keluarganya, tetapi juga memicu reaksi keras dari masyarakat, terutama dari Gerakan Mahasiswa Alifuru (Gemafuru) yang melakukan demonstrasi di Kantor DPRD Provinsi Maluku.
Aksi demonstrasi tersebut, dipimpin oleh Welrinto Luturmas, bertujuan untuk menyoroti dugaan praktik nepotisme dan ketidaktransparanan dalam seleksi Paskibraka Nasional. Mereka menuntut keadilan bagi Kristianie dan mengangkat isu bahwa proses seleksi harus dilakukan secara adil dan tidak diskriminatif.
Korlap aksi tersebut mengungkapkan, “Poin utama dari aksi kami saat ini adalah melawan tindakan nepotisme yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.”
Di sisi lain, Kepala Kesbangpol Provinsi Maluku, Daniel Indey, memberikan penjelasan resmi terkait insiden ini. Menurutnya, Kristianie dan tiga temannya telah ditetapkan sebagai peserta yang lolos seleksi tingkat provinsi berdasarkan nilai tertinggi yang mereka capai. Namun, setelah menjalani pemeriksaan kesehatan di RSUD dr. Haulussy, Kristianie dan dua peserta lainnya tidak memenuhi syarat kesehatan yang ditetapkan.
“Dari tahapan medical check up ini ternyata ada tiga orang yang hasilnya tidak memenuhi syarat kesehatan, salah satunya termasuk adik Kristianie ini,” jelas Daniel .
Kendati demikian, ketidakpuasan masih meluap dari pihak yang terkena dampak langsung dari keputusan ini. Kristianie sendiri mengaku tidak pernah diberitahu secara resmi mengenai hasil pemeriksaan kesehatannya yang menyebabkan nama dan harapannya tiba-tiba tergantikan.
“Jujur saya sangat kecewa sekali, tiba-tiba nama saya diganti,” ungkapnya dengan nada penuh kekecewaan.
Pihak berwenang menegaskan bahwa keputusan penggantian ini bukanlah hasil dari praktik nepotisme, meskipun spekulasi masyarakat mengenai hubungan dekat antara peserta yang digantikan dengan pihak-pihak berpengaruh terus beredar.
Kini, sementara Kristianie secara otomatis menjadi anggota Paskibraka di tingkat provinsi, masih terbuka ruang untuk klarifikasi dan transparansi yang lebih baik dalam proses seleksi nasional ke depan. Masyarakat berharap agar keadilan dan integritas tetap menjadi pijakan utama dalam menjaga martabat dan kepercayaan publik terhadap institusi-institusi yang mengemban tugas negara.
(N/014)
Skandal Seleksi Paskibraka: Kristianie, dari Harapan ke Kekecewaan