ACEH – Dalam tausiyah subuh yang disampaikan pada Pengajian Ahad Subuh di Masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh, Ustadz Dr. Badrul Munir, Lc., MA., mengupas tuntas tema menarik yang sarat hikmah: "Keruntuhan Kekuasaan dalam Lintasan Sejarah: Durus wa Ibrah".
Kajian ini menjadi pengingat bahwa kekuasaan bukanlah sesuatu yang bersifat abadi, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Dengan pendekatan historis dan refleksi Qur'ani, Ustadz Dr. Badrul Munir mengajak jamaah untuk merenungi siklus naik-turunnya peradaban sebagai bagian dari ketetapan Allah SWT.
Kekuasaan: Antara Amanah dan Kehancuran
Mengawali ceramahnya, beliau mengutip firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 140 yang menyatakan bahwa kejayaan dan kehancuran adalah sesuatu yang Allah pergilirkan di antara manusia.
Menurutnya, ini menjadi bukti bahwa tidak ada kekuasaan yang bersifat langgeng.
"Sejarah menunjukkan bahwa ketika sebuah kekuasaan tidak lagi dibangun di atas keadilan dan amanah, maka keruntuhan hanya tinggal menunggu waktu," ujar beliau.
Faktor-Faktor Penyebab Runtuhnya Kekuasaan
Ustadz Badrul Munir membagi penyebab keruntuhan kekuasaan menjadi dua kategori besar: faktor internal dan faktor eksternal.
1. Faktor Internal
- Perebutan kekuasaan yang tidak sehat
- Perpecahan dalam tubuh pemerintahan
- Kesombongan dan gaya hidup hedonistik
- Kepemimpinan yang lemah dan birokrasi yang tidak efektif
- Korupsi dan tidak berjalannya keadilan hukum
- Ketidakpuasan rakyat hingga munculnya perlawanan
Beliau menegaskan, banyak negeri hancur karena para elitnya hidup dalam kemewahan, tetapi abai terhadap amanah dan nilai moral.
2. Faktor Eksternal
Di sisi lain, invasi asing, penjajahan, hingga dominasi ekonomi-politik dari luar turut menjadi pemicu keruntuhan, sebagaimana pernah terjadi pada Kekhalifahan Abbasiyah yang diserang oleh bangsa Mongol.
Pelajaran dari Sejarawan Muslim dan Nilai-Nilai Islam
Mengutip Ibnu Khaldun, beliau menjelaskan bahwa setiap dinasti atau kekuasaan memiliki siklus hidupnya, rata-rata bertahan selama 100–120 tahun.
Jika tidak disertai pembenahan struktural dan spiritual, maka kekuasaan akan melemah.
Namun demikian, Islam sebagai ajaran dan nilai tetap bertahan dan tumbuh, meskipun berbagai kekuasaan Islam pernah runtuh.
Hal ini sesuai janji Allah dalam QS. Ash-Shaff ayat 8, bahwa cahaya Islam tidak akan pernah padam.
Menjadikan Sejarah Sebagai Cermin
Menutup tausiyahnya, Ustadz Dr. Badrul Munir mengajak seluruh jamaah untuk merenungi sejarah bukan sekadar sebagai narasi masa lalu, tapi sebagai cermin perbaikan diri, masyarakat, dan bangsa.
"Kekuasaan adalah ujian, bukan tujuan. Siapa yang mengkhianatinya, pasti akan merasakan akibatnya," tegas beliau.*