Sementara Ramadan menjadi puncak semangat ibadah. Adapun Syaban, meski tidak kalah mulia, justru sering dilupakan.
Hal ini sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Abu Dawud dan An-Nasa'i.
Nabi menyebut Syaban sebagai bulan yang kerap diabaikan manusia, bukan karena tidak memiliki keutamaan, melainkan karena kelalaian umat dalam memaknainya.
Berbeda dengan kebanyakan orang, para salafus saleh justru memberi perhatian khusus pada Syaban.
Bulan ini dijadikan sebagai fase persiapan spiritual sebelum memasuki Ramadan.
Merujuk berbagai literatur klasik Islam, setidaknya terdapat tiga peristiwa besar yang menegaskan kemuliaan Syaban.
Turunnya Perintah Bersholawat
Mayoritas ulama tafsir menyebutkan bahwa perintah bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Ahzab ayat 56, diturunkan pada bulan Syaban.
Ibnu Katsir menjelaskan, sholawat Allah bermakna pujian, sholawat malaikat bermakna doa, dan sholawat manusia bermakna permohonan keberkahan.
Karena itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menganjurkan umat Islam memperbanyak sholawat di bulan Syaban sebagai sarana membersihkan hati dan jiwa.
Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmû' Syarah Al-Muhadzdzab mencatat bahwa kewajiban puasa Ramadan diturunkan pada bulan Syaban tahun ke-2 Hijriah.
Peristiwa ini menandai awal diberlakukannya salah satu rukun Islam yang paling utama.
Dengan demikian, Syaban menjadi bulan pengantar lahirnya kemuliaan Ramadan.
Peralihan Arah Kiblat
Peristiwa penting lainnya adalah peralihan arah kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram. Perintah ini termaktub dalam Surat Al-Baqarah ayat 144.
Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkâmil Qur'an mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti yang menyebut peristiwa tersebut terjadi pada malam Selasa di bulan Syaban, bertepatan dengan Nisfu Syaban.
Peralihan kiblat ini menegaskan esensi tauhid: umat Islam menyembah Allah SWT, bukan arah atau bangunan tertentu.
Tiga peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Syaban bukan sekadar bulan peralihan, melainkan bulan sarat nilai sejarah dan spiritual.
Karena itu, umat Islam dianjurkan mengisinya dengan peningkatan kualitas ibadah, memperbanyak sholawat, serta mempersiapkan diri secara fisik dan batin menyambut Ramadan.*
(d/ad)
Editor
: Adam
Syaban, Bulan yang Sering Terlupa di Antara Rajab dan Ramadan