Dari Notaris hingga Perwira TNI Aktif, Ini 14 Wajah Baru Hakim Agung dan Ad Hoc MA yang Disahkan DPR
JAKARTA DPR RI menyetujui 11 calon hakim agung dan 3 hakim ad hoc Mahkamah Agung (MA) dalam rapat paripurna di Gedung DPR, Senayan, Jakart
NASIONAL
MEDAN — Bulan Syaban kerap disebut sebagai bulan yang "terjepit".
Letaknya yang berada di antara dua bulan mulia, Rajab dan Ramadan, membuatnya sering luput dari perhatian umat Islam.
Padahal, dalam sejarah Islam, Syaban menyimpan sejumlah peristiwa penting yang menjadi tonggak syariat.Baca Juga:
Di bulan Rajab, umat Islam disibukkan dengan peringatan Isra Mikraj dan ibadah sunnah.
Sementara Ramadan menjadi puncak semangat ibadah. Adapun Syaban, meski tidak kalah mulia, justru sering dilupakan.
Hal ini sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Abu Dawud dan An-Nasa'i.
Nabi menyebut Syaban sebagai bulan yang kerap diabaikan manusia, bukan karena tidak memiliki keutamaan, melainkan karena kelalaian umat dalam memaknainya.
Berbeda dengan kebanyakan orang, para salafus saleh justru memberi perhatian khusus pada Syaban.
Bulan ini dijadikan sebagai fase persiapan spiritual sebelum memasuki Ramadan.
Merujuk berbagai literatur klasik Islam, setidaknya terdapat tiga peristiwa besar yang menegaskan kemuliaan Syaban.
Turunnya Perintah Bersholawat
Mayoritas ulama tafsir menyebutkan bahwa perintah bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Ahzab ayat 56, diturunkan pada bulan Syaban.
Ibnu Katsir menjelaskan, sholawat Allah bermakna pujian, sholawat malaikat bermakna doa, dan sholawat manusia bermakna permohonan keberkahan.
Karena itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menganjurkan umat Islam memperbanyak sholawat di bulan Syaban sebagai sarana membersihkan hati dan jiwa.
Penetapan Kewajiban Puasa Ramadan
Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmû' Syarah Al-Muhadzdzab mencatat bahwa kewajiban puasa Ramadan diturunkan pada bulan Syaban tahun ke-2 Hijriah.
Peristiwa ini menandai awal diberlakukannya salah satu rukun Islam yang paling utama.
Dengan demikian, Syaban menjadi bulan pengantar lahirnya kemuliaan Ramadan.
Peralihan Arah Kiblat
Peristiwa penting lainnya adalah peralihan arah kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram. Perintah ini termaktub dalam Surat Al-Baqarah ayat 144.
Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkâmil Qur'an mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti yang menyebut peristiwa tersebut terjadi pada malam Selasa di bulan Syaban, bertepatan dengan Nisfu Syaban.
Peralihan kiblat ini menegaskan esensi tauhid: umat Islam menyembah Allah SWT, bukan arah atau bangunan tertentu.
Tiga peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Syaban bukan sekadar bulan peralihan, melainkan bulan sarat nilai sejarah dan spiritual.
Karena itu, umat Islam dianjurkan mengisinya dengan peningkatan kualitas ibadah, memperbanyak sholawat, serta mempersiapkan diri secara fisik dan batin menyambut Ramadan.*
(d/ad)
JAKARTA DPR RI menyetujui 11 calon hakim agung dan 3 hakim ad hoc Mahkamah Agung (MA) dalam rapat paripurna di Gedung DPR, Senayan, Jakart
NASIONAL
JAKARTA Rapat paripurna DPR RI menyetujui Nuzran Joher sebagai Ketua Ombudsman Republik Indonesia (RI) masa jabatan 20262031. Penetapan t
NASIONAL
JAKARTA Pimpinan dan anggota DPR RI bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa serta sejumlah menteri terkait akan berangkat ke Nusa Te
NASIONAL
NABIRE Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menegaskan masyarakat Papua memiliki hak untuk menyampaikan tuntutan terkait kesejah
NASIONAL
JAKARTA Polda Metro Jaya mengamankan 21 orang menjelang rangkaian aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta, Selasa (18/8/2026). Polisi menyeb
NASIONAL
JAKARTA Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan menggelar sidang perdana praperadilan yang diajukan mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana K
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut mengaku dalam kondisi kurang sehat saat menjalani sidang perkara dugaan k
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Polda Metro Jaya mengerahkan 9.242 personel gabungan untuk mengamankan 31 aksi demonstrasi dan sejumlah kegiatan masyarakat di Jak
NASIONAL
JAKARTA Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) memilih kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, sebagai lok
NASIONAL
JAKARTA Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 2.119 gempa susulan terjadi setelah gempa bumi magnitudo (M) 7,7 men
PERISTIWA