Hal ini disampaikan Ust. Dr. H. Muharrir Asy'ari, Lc, M. Ag, saat pengajian rutin Ahad Subuh di Masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh dengan tema "Waktu yang Mustajab untuk Berdoa", Sabtu (8/2/2026).
Semua bacaan dalam shalat – takbir, tasbih, tahmid, tasyahud, dan shalawat – merupakan permohonan dan pengagungan kepada Allah.
Ia menekankan bahwa setiap ayat dalam Surah Al-Fatihah adalah doa yang dijawab Allah satu per satu.
"Siapa yang berdiri dalam shalat tanpa menghadirkan makna, maka ia berdiri di hadapan Allah dengan jasadnya saja," ujar Ustadz Muharrir.
Waktu-Waktu Mustajab untuk Berdoa
Beberapa waktu yang sangat dianjurkan untuk doa berkaitan erat dengan shalat: - Sepertiga malam terakhir: shalat tahajud. - Hari Jumat: shalat Jumat. - Waktu azan dan antara azan dan iqamah. - Bulan puasa: shalat tarawih dan qiyamullail. - Hari Arafah: doa dan shalat berjamaah.
Ini menunjukkan bahwa shalat adalah pusat doa dalam kehidupan seorang muslim.
Kehadiran hati dan pemahaman makna bacaan membuat doa menjadi hidup dan lebih mudah dikabulkan.
Ustadz Muharrir menuturkan kisah Ali bin Abi Thalib yang menghadiri shalat dengan wajah pucat karena memahami shalat sebagai dialog langsung dengan Allah.
Serta kisah nyata seorang jamaah yang merasa hidupnya lebih tenang setelah memahami makna Al-Fatihah, terutama "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in", yang menegaskan ketundukan dan permohonan pertolongan kepada Allah.
Kesimpulannya, agar doa diterima Allah: - Jagalah waktu-waktu mustajab. - Hidupkan doa dalam shalat. - Pahami makna bacaan yang diucapkan. - Pastikan hati hadir sepenuhnya saat berdoa.
"Semoga Allah menjadikan shalat kita shalat yang hidup, doa kita doa yang diijabah, dan waktu kita waktu yang diberkahi. Aamiin ya Rabbal 'alamin," tutup Ustadz Muharrir.*