BREAKING NEWS
Jumat, 18 September 2026

Ketika Harta Jadi Tujuan: Ustaz Muakhir Zakaria Ingatkan Korupsi Berawal dari Krisis Amanah

T.Jamaluddin - Jumat, 18 September 2026 14:38 WIB
Ketika Harta Jadi Tujuan: Ustaz Muakhir Zakaria Ingatkan Korupsi Berawal dari Krisis Amanah
Guru Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee, Siem, Aceh Besar, Ustaz Dr H Muakhir Zakaria, MA, dalam khutbah Jumat di Masjid Darul Hasani Miruek Taman, Kecamatan Darussalam, Jumat (18/9/2026). (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

ACEH BESAR - Harta dan keturunan merupakan perhiasan dalam kehidupan dunia, namun keduanya juga dapat menjadi ujian bagi manusia dalam menjalankan kehidupan beragama. Karena itu, umat Islam diingatkan agar tidak menjadikan harta maupun anak sebagai tujuan utama kehidupan.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Umum sekaligus Guru Dayah Darul Ihsan Abu Krueng Kalee, Siem, Aceh Besar, Ustaz Dr H Muakhir Zakaria, MA, dalam khutbah Jumat di Masjid Darul Hasani Miruek Taman, Kecamatan Darussalam, Jumat (18/9/2026), bertepatan dengan 6 Rabiul Akhir 1448 Hijriah.

Menurut Muakhir, hubungan antara harta dan keturunan sebagai perhiasan dunia dengan fitnah atau ujian dapat dipahami dari cara manusia memanfaatkan keduanya. Jika harta dan anak membawa seseorang semakin taat kepada Allah, keduanya menjadi nikmat dan perhiasan. Sebaliknya, jika membuat seseorang lalai atau terjerumus dalam kemaksiatan, keduanya dapat berubah menjadi fitnah dan bencana.

Baca Juga:

Muakhir mengutip firman Allah SWT dalam QS Al-Kahfi ayat 46 yang menyebut harta dan anak sebagai perhiasan kehidupan dunia. Dalam ayat tersebut juga ditegaskan bahwa amal kebajikan yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Allah dan lebih baik untuk menjadi harapan.

Dia menjelaskan, Imam Al-Qurthubi menerangkan harta dan anak disebut sebagai perhiasan kehidupan dunia karena pada harta terdapat keindahan dan manfaat, sedangkan pada anak terdapat kekuatan dan dukungan. Harta dapat memenuhi kebutuhan dan menunjang berbagai kepentingan kehidupan, sementara anak dapat menjadi sumber kebahagiaan, ketenteraman, penerus keturunan, hingga dukungan bagi orang tua.

Selain itu, Muakhir mengutip QS At-Taghabun ayat 15 yang menyebut harta dan anak-anak sebagai cobaan atau fitnah. Imam Ath-Thabari menjelaskan ayat tersebut sebagai ujian bagi manusia untuk melihat apakah mereka menunaikan hak Allah atas harta dan anak serta tetap menaati perintah-Nya, atau justru menjadi lalai dalam beribadah.

Menurut Muakhir, harta dan keturunan secara khusus disebut dalam ayat tersebut karena keduanya memiliki daya ikat yang kuat terhadap hati manusia.

Seseorang dapat bekerja keras siang dan malam untuk mengumpulkan harta. Setelah memilikinya, muncul kekhawatiran kehilangan kekayaan tersebut. Begitu pula terhadap anak, orang tua dapat melakukan berbagai hal demi masa depan keturunannya. Dalam kondisi tertentu, dorongan tersebut bahkan dapat menggoda seseorang melanggar batas halal dan haram dengan alasan kepentingan keluarga.

Muakhir juga menyebut harta dan keturunan dapat menjadi akar berbagai persoalan ketika manusia keliru memandang hakikat keduanya.

Karena itu, dia mengingatkan bahwa harta bukanlah tujuan akhir kehidupan. Allah menyebut harta sebagai perhiasan, bukan tujuan hidup. Perhiasan semestinya memperindah kehidupan tanpa menguasai hati manusia.

Menurutnya, ketika harta dijadikan tujuan utama, seseorang dapat kehilangan batas antara yang halal dan haram. Kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi keserakahan, penipuan, suap, penggelapan hingga korupsi.

"Korupsi pada hakikatnya bukan sekadar persoalan hukum, tetapi juga krisis amanah dan penyakit moral. Seseorang yang mengambil harta yang bukan haknya telah mengorbankan kejujuran demi perhiasan dunia yang sementara," ungkap Muakhir.

Selain harta, Muakhir mengingatkan agar anak dipandang sebagai amanah, bukan semata-mata kebanggaan. Menurutnya, orang tua tidak cukup hanya mengejar keberhasilan materi anak, tetapi juga perlu membangun iman, ilmu, akhlak dan tanggung jawab.

Dia menilai orang tua yang hanya mengejar prestasi, kekayaan dan status sosial anak tanpa membangun moralnya berisiko melahirkan generasi yang memiliki kemampuan tetapi lemah dalam integritas.

Muakhir kemudian mengingatkan pentingnya mengubah orientasi hidup. Menurutnya, harta dan keturunan tetap merupakan bagian dari kehidupan dunia, tetapi ukuran keberhasilan manusia tidak berhenti pada keduanya.

Allah telah menegaskan bahwa amal-amal saleh yang kekal memiliki nilai yang lebih baik sebagai bekal dan harapan manusia.

"Artinya yang harus menjadi ukuran keberhasilan," pungkas Muakhir.* (dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Gandeng Polisi Kanada Kapolda Aceh Perkuat Blokade Jalur Laut untuk Tumpas Jaringan Penyelundupan Manusia
Kesal Bantuan Tak Seimbang, Warga Manggarai Timur Injak Mi Instan Bantuan Gempa Flores hingga Viral
Panggilan Kemanusiaan, Wakil Ketua MDMC Aceh Dr Aslinar Terbang ke Flores untuk Perkuat Tim Medis Korban Gempa NTT
Lapas Labuhan Ruku Gandeng LBH Garuda Kencana, WBP Kurang Mampu Dapat Pendampingan Hukum Gratis
Komnas HAM Hanya Dapat Rp94,2 Miliar untuk 2027, Anis Hidayah: Belum Cukup
Bukan Korban Kejahatan, Tulang Belulang Viral di Pantai Aceh Besar Ternyata Sisa Makam Sepanjang 800 Meter yang Tergerus Tsunami
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru