JAKARTA -Nilai tukar rupiah dibuka melemah di level Rp16.960 per dolar AS pada perdagangan pasar spot pagi ini, Rabu (9/4).
Mata uang Garuda tercatat turun 69 poin atau 0,41 persen.
Pelemahan ini mencerminkan masih tingginya ketegangan pasar akibat isu perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan China yang kembali memanas.
Sejumlah mata uang Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi.
Baht Thailand menguat 0,12 persen, won Korea Selatan naik 0,14 persen, yen Jepang mengalami kenaikan sebesar 0,52 persen, namun ringgit Malaysia sedikit melemah dengan penurunan 0,05 persen.
Sementara itu, mata uang utama negara maju terlihat menguat.
Poundsterling Inggris naik 0,57 persen, franc Swiss menguat 0,6 persen, dan dolar Kanada juga naik 0,61 persen.
Ariston Tjendra, pengamat pasar keuangan, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah disebabkan oleh kekhawatiran pasar terhadap ketegangan perang tarif yang kian memanas.
China telah melakukan pembalasan terhadap tarif yang dikenakan Presiden AS, Donald Trump, yang semakin meningkatkan ketidakpastian di pasar global.
"Ketidakpastian yang tinggi terkait perang tarif ini memberi dampak negatif terhadap sentimen pasar, sehingga berpengaruh pada penurunan nilai tukar rupiah," kata Ariston.
Menurutnya, nilai tukar rupiah saat ini mencatatkan posisi terendah dalam sejarah perdagangan spot.
"Untuk perdagangan spot, ini adalah yang terendah sepanjang sejarah," lanjutnya.
Pada perdagangan hari ini, Ariston memprediksi rupiah akan bergerak dalam rentang antara Rp16.900 hingga Rp17.000 per dolar AS.*
(cn/a)
Editor
: Adelia Syafitri
Nilai Tukar Rupiah Dibuka Melemah di Posisi Rp16.960 per Dolar AS, Tertimpa Isu Perang Tarif