BREAKING NEWS
Rabu, 18 Februari 2026

IHSG Diprediksi Melemah Awal Pekan, Investor Beralih ke Sektor Perbankan dan Properti

Adelia Syafitri - Senin, 30 Juni 2025 08:16 WIB
IHSG Diprediksi Melemah Awal Pekan, Investor Beralih ke Sektor Perbankan dan Properti
Ilustrasi. (foto: bizhare)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan membuka pekan ini dengan kecenderungan melemah.

Prediksi tersebut disampaikan oleh Retail Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Indri Liftiany Travelin Yunus, yang menyoroti kombinasi sentimen global dan domestik sebagai pemicu utama tekanan pada pasar saham Indonesia.

Dari sisi eksternal, pasar global dibayangi oleh potensi pelemahan data ekonomi utama.

Indeks NBS Manufacturing PMI China untuk Juni 2025 diprediksi turun ke 49,5 dari sebelumnya 49,7 akibat tekanan perang tarif dan deflasi yang masih berlangsung.

Sementara itu, di Amerika Serikat, data ISM Manufacturing PMI diperkirakan naik terbatas ke 48,8 dari 48,5.

Namun, data tenaga kerja Non-Farm Payrolls diprediksi melemah ke 129.000 dari 139.000 bulan sebelumnya, dan Indeks S&P Global Composite PMI Final juga turun ke 52,8 dari 53.

"Pelemahan sejumlah indikator ekonomi utama dari dua negara besar dunia ini menambah kekhawatiran pasar global dan berpotensi menekan pergerakan IHSG," ungkap Indri dalam risetnya, Senin (30/6/2025).

Dari dalam negeri, data ekonomi menunjukkan sinyal campuran.

Indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia diprediksi naik ke 48,5 dari sebelumnya 47,4, sebuah perbaikan meskipun masih berada di bawah level ekspansi.

Neraca perdagangan Indonesia untuk Mei diperkirakan mencatat surplus sebesar USD1 miliar, naik signifikan dari USD0,15 miliar bulan sebelumnya.

Namun, tingkat inflasi Indonesia pada Juni diprediksi meningkat menjadi 2,4 persen dari sebelumnya 1,6 persen, yang bisa memengaruhi daya beli dan ekspektasi kebijakan moneter.

Indri menyebutkan bahwa dalam beberapa waktu ke depan, fokus pelaku pasar cenderung bergeser dari ketegangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah, ke arah prospek pemangkasan suku bunga dan kebijakan tarif global.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru