BREAKING NEWS
Minggu, 29 Maret 2026

Ekonomi Tumbuh 5,12 Persen pada Kuartal II-2025, Tapi Daya Beli Masyarakat Masih Jadi Catatan

Adelia Syafitri - Rabu, 06 Agustus 2025 17:29 WIB
Ekonomi Tumbuh 5,12 Persen pada Kuartal II-2025, Tapi Daya Beli Masyarakat Masih Jadi Catatan
Ilustrasi. (foto: ekon.go.id)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,12 persen secara tahunan (year on year) pada kuartal II-2025.

Capaian ini lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya dan berada di atas ekspektasi pasar.

Namun, di tengah kabar baik tersebut, sejumlah indikator mikro menunjukkan bahwa daya beli masyarakat, khususnya di kawasan urban dan kelas menengah bawah, masih menghadapi tantangan.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dihitung berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp5.947 triliun dan harga konstan sebesar Rp3.396,3 triliun.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 bila dibandingkan dengan kuartal II-2024 tumbuh sebesar 5,12 persen," ujar Edy, Rabu (6/8/2025).

Salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga, yang tercatat tumbuh 4,97 persen.

Meski demikian, Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai bahwa angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan realita di lapangan.

Menurutnya, penguatan konsumsi lebih banyak dipengaruhi oleh momentum libur Idul Fitri dan kebutuhan dasar, bukan karena peningkatan pendapatan masyarakat.

"Pemulihan daya beli masih belum merata, terutama di kelas menengah bawah dan di wilayah perkotaan," kata Josua.

Beberapa survei yang dirilis Bank Indonesia juga menunjukkan tren yang patut dicermati.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) naik dari 117,5 menjadi 117,8 pada Juni 2025.

Namun, Josua mengingatkan bahwa optimisme ini lebih mencerminkan harapan masa depan, bukan realisasi konsumsi saat ini.

Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat naik tipis menjadi 106,7.

Kenaikan ini didorong persepsi terhadap penghasilan dan pembelian barang tahan lama, namun Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja masih berada di zona pesimis, yakni 94,1.

Survei penjualan eceran periode Mei–Juni 2025 juga memperlihatkan pertumbuhan 1,9 persen, tetapi hanya pada kelompok kebutuhan pokok.

Penjualan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Semarang justru mengalami penurunan tajam masing-masing sebesar 26,8 persen dan 25,4 persen.

Dari sisi industri, PMI manufaktur Indonesia menurut S&P Global berada pada level 49,2, di bawah ambang ekspansi.

Permintaan ekspor melemah, dan kepercayaan bisnis jatuh ke titik terendah sejak April 2012.

Data sosial BPS menunjukkan bahwa proporsi pengeluaran konsumsi (average propensity to consume) meningkat menjadi 75,1 persen dari sebelumnya 74,3 persen.

Artinya, masyarakat mengalokasikan lebih banyak pendapatan untuk konsumsi, bahkan dengan mengorbankan tabungan.

"Penurunan rasio tabungan bukan karena pendapatan naik, tetapi karena masyarakat harus menghadapi tekanan biaya hidup dan inflasi," jelas Josua.

Melihat ketimpangan pemulihan ini, Josua menilai bahwa kebijakan fiskal dan moneter yang ekspansif masih sangat diperlukan.

Bantuan sosial dan stimulus fiskal dianggap penting untuk menjaga daya beli secara inklusif dan berkelanjutan.

"Kebijakan perlu diarahkan agar perbaikan daya beli tidak hanya dinikmati sebagian kelompok, tapi juga menjangkau masyarakat luas," pungkasnya.*

(km/a008)

Editor
:
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru