Beberapa perusahaan swasta diketahui tengah melakukan revisi kontrak pengadaan BBM untuk semester kedua 2025, yang berpengaruh terhadap volume distribusi harian.
Sementara itu, Asosiasi Perusahaan Minyak Swasta Indonesia (APMSI) mengungkapkan bahwa lonjakan permintaan terjadi terutama di wilayah perkotaan.
Kenaikan ini terjadi usai penyesuaian harga BBM subsidi Pertamina, yang membuat konsumen mulai beralih ke SPBU swasta dengan harga yang kompetitif.
Namun demikian, kapasitas tangki dan sistem logistik distribusi beberapa perusahaan swasta disebut belum sepenuhnya siap mengimbangi lonjakan permintaan.
Sebagai respons, Kementerian ESDM bersama BPH Migas telah meminta para pelaku usaha untuk segera mempercepat realisasi kuota impor yang telah disetujui serta memperluas jaringan distribusi guna memastikan pasokan tetap stabil.
Hingga awal September 2025, situasi di sebagian besar SPBU swasta mulai kembali normal secara bertahap, seiring dengan masuknya pasokan tambahan dan perbaikan jalur distribusi.
Dengan berbagai langkah yang telah dilakukan, Menteri Bahlil menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap isu kelangkaan BBM.
Pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga ketersediaan energi dan memastikan pelayanan kepada masyarakat berlangsung lancar.
"Kami pastikan, BBM tersedia. Tidak ada kelangkaan. Ini hanya persoalan distribusi yang sedang disesuaikan, dan kami pantau secara ketat," pungkasnya.*