BREAKING NEWS
Senin, 23 Februari 2026

Rupiah Terdepresiasi ke Rp16.726 per Dolar AS, Terlemah Sejak April

- Kamis, 25 September 2025 09:58 WIB
Rupiah Terdepresiasi ke Rp16.726 per Dolar AS, Terlemah Sejak April
Ilustrasi. (foto: vocazine)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
MEDAN — Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (25/9/2025), mencerminkan tekanan eksternal dan sentimen kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan moneter global.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.04 WIB, rupiah dibuka melemah 0,25% ke level Rp16.726 per dolar AS, level terendah yang terakhir disentuh pada April lalu.

Sementara itu, indeks dolar AS justru turun tipis 0,06% ke 97,81, mencerminkan pelemahan ringan terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Baca Juga:
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS terpantau bervariasi. Beberapa mata uang mencatat penguatan, seperti:

- Yen Jepang naik 0,12%

- Dolar Hong Kong naik 0,11%

- Dolar Singapura naik 0,06%

- Won Korea Selatan naik 0,34%

- Rupee India naik 0,06%

- Yuan China naik 0,05%

Namun, depresiasi juga terjadi pada:

- Dolar Taiwan turun 0,26%

- Peso Filipina turun 0,55%

- Ringgit Malaysia turun 0,05%

- Baht Thailand turun 0,11%

Pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

Ketua The Fed Jerome Powell, dalam pernyataannya, menekankan perlunya kehati-hatian dalam menyeimbangkan antara risiko inflasi yang masih tinggi dan melemahnya pasar tenaga kerja.

Komentar tersebut menimbulkan spekulasi bahwa The Fed belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat, meskipun sebagian pelaku pasar masih memperkirakan pemangkasan bisa terjadi pada Oktober, menurut FedWatch tools milik CME Group.

Gene Goldman, Chief Investment Officer Cetera Investment Management, menyebut kekhawatiran pasar meningkat karena ketidakjelasan apakah Fed akan memangkas suku bunga secara konsisten di setiap pertemuan hingga akhir tahun.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyebutkan bahwa pelemahan rupiah dalam lima hari terakhir telah mencapai 1,5%, lebih dalam dibandingkan peso Filipina (1,0%), ringgit Malaysia (0,5%), dan baht Thailand (0,8%).

Menurut Rully, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari eksternal, tetapi juga faktor domestik, khususnya kekhawatiran pasar terhadap kebijakan fiskal yang dinilai agresif.

"Sentimen terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh langkah-langkah fiskal Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang dianggap berisiko jika tidak dikelola dengan hati-hati," ujarnya.

Para pelaku pasar global kini tengah menanti rilis data inflasi Amerika Serikat pada Jumat, yang diperkirakan akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga berikutnya dari The Fed.

Hingga saat itu, mata uang negara berkembang termasuk rupiah kemungkinan akan tetap berada dalam tekanan.*

(bi/a008)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
IHSG Sentuh Level 8.169, Waspadai Profit Taking dan Tekanan Eksternal
Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.694 per Dolar AS, Sentimen Pemangkasan Suku Bunga Masih Membayangi
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp16.605 per Dolar AS
Rupiah Melemah ke Rp16.634, Dolar AS Menguat Jelang Pidato Pejabat The Fed
Pemprov Sumut Luncurkan Program JASKOP: Harga Pangan Tetap Stabil, Petani Untung!
Wagub Sumut Ikuti Rakor Pengendalian Inflasi, Harga Beras di Tiga Daerah Jadi Sorotan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru