BREAKING NEWS
Minggu, 19 April 2026

Rupiah Melemah ke Rp16.750 per Dolar AS, Investor Tunggu Data Nonfarm Payrolls AS

Adelia Syafitri - Selasa, 18 November 2025 09:51 WIB
Rupiah Melemah ke Rp16.750 per Dolar AS, Investor Tunggu Data Nonfarm Payrolls AS
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (18/11/2025).

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, rupiah dibuka di level Rp16.750 per dolar AS atau melemah 0,08% dibanding penutupan sebelumnya.

Sementara itu, indeks dolar AS mencatat pelemahan tipis 0,06% ke 99,53. Di kawasan Asia, pergerakan mata uang mayor bervariasi.

Baca Juga:

Yen Jepang menguat 0,04%, dolar Hong Kong melemah 0,01%, dan dolar Singapura stagnan.

Dolar Taiwan turun 0,04%, won Korea Selatan melemah 0,46%, peso Filipina menguat 0,02%, yuan China melemah 0,01%, ringgit Malaysia turun 0,40%, dan baht Thailand turun 0,04% terhadap dolar AS.


Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.730-Rp16.770 per dolar AS pada hari ini.

"Investor semakin yakin bahwa Federal Reserve kemungkinan besar tidak akan melonggarkan kebijakan suku bunga dalam waktu dekat, mengingat inflasi masih tinggi dan pasar tenaga kerja tetap kuat," ujarnya.

Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 mencapai 5,33%, sedikit di bawah target pemerintah sebesar 5,4%.

Namun, BI optimistis realisasi pengeluaran fiskal lebih cepat dapat mendorong pertumbuhan ekonomi mendekati target APBN 2026.

Inflasi diperkirakan berada di level 2,62%, masih sesuai kisaran sasaran 2,5% plus minus 1 persen.

Di pasar global, dolar AS menguat terhadap euro dan yen menjelang rilis data ekonomi yang tertunda akibat penutupan pemerintahan federal.

Data nonfarm payrolls AS bulan September yang akan dirilis pada Kamis mendatang menjadi sorotan utama para trader.

Uto Shinohara, Senior Investment Strategist Mesirow Currency Management, menilai data ini dapat menjadi indikator penting bagi keputusan The Fed pada Desember.

"Inflasi masih sulit turun, sementara kondisi pasar tenaga kerja terlihat melemah. Data nonfarm payrolls akan menjadi petunjuk penting, meski mencerminkan kondisi September dan bisa memicu reaksi pasar jika angkanya mengejutkan," kata Shinohara.*


(bi/ad)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Prabowo Bahas Target Ekonomi 8 Persen dalam Pertemuan dengan Wakil Ketua DPR di Istana
Kemendagri Apresiasi Langkah Cepat Pemprov Sumut , Inflasi Turun dari 5,32% ke 4,97%!
Utang Luar Negeri Indonesia Kuartal III 2025 Menurun Jadi US$424,4 Miliar
BPS Catat Harga Telur Ayam Ras Tembus Rp31.646 per Kg, Dipicu Program MBG
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp16.726 per Dolar AS, Tertekan Penguatan Dolar dan Sentimen Global
Gubernur Bali Borong Pasar Murah, Ribuan Warga Antusias Sambut Galungan-Kuningan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru