MEDAN — Harga Bitcoin terus mengalami tekanan tajam, turun 7,6% menjadi US$80.553 pada Jumat, 21 November 2025, memperdalam aksi jual yang telah memangkas hampir 25% nilai mata uang kripto terbesar ini bulan ini.
November tercatat sebagai bulan terburuk Bitcoin sejak kejatuhan Terra dan FTX pada 2022.
Kemerosotan ini terutama didorong oleh penjualan spot, termasuk penebusan dari exchange-traded fund besar, aktivitas dompet lama, dan meredupnya permintaan dari para trader momentum.
Posisi opsi turut memperbesar fluktuasi harga melalui mekanisme yang dikenal sebagai gamma exposure, di mana dealer menyesuaikan lindung nilai untuk tetap netral.
Chris Newhouse, Direktur Riset di Ergonia, menyebutkan, "Bitcoin tetap rentan terhadap tekanan teknikal berkelanjutan, dengan potensi percepatan yang didorong gamma menembus level support kunci."
Salah satu level kunci tersebut adalah US$85.000, di mana aktivitas hedging dealer memperparah penurunan harga.
Mendekati US$80.000, posisi dealer berbalik menjadi long gamma, yang memaksa mereka membeli Bitcoin dan dapat meredam aksi jual lanjutan.
Pada saat berita ini ditulis, Bitcoin diperdagangkan sekitar US$85.130 di New York.
Para trader membeli opsi put pada level-level kritis, sehingga menambah tekanan pada dealer yang menjual kontrak-kontrak tersebut.
Selain itu, likuidasi paksa pada kontrak futures juga memperdalam aksi jual.
Arus keluar dari ETF Bitcoin besar semakin melemahkan permintaan pasar, membuat harga lebih sensitif terhadap penjualan rutin.
Greg Magadini, Direktur Derivatif di Amberdata, menambahkan, "Level US$80.000 menjadi perhatian utama. Penembusan di bawahnya bisa memicu aliran penyeimbang dari hedging dealer, namun pantulan kemungkinan hanya sementara."