Selain rupiah, penguatan juga tercatat pada dolar Taiwan (+0,48%), won Korea (+0,36%), peso Filipina (+0,35%), rupee India (+0,25%), yuan China (+0,08%), dan ringgit Malaysia (+0,77%).
Sebaliknya, yen Jepang melemah 0,53%, dolar Hong Kong turun 0,01%, dolar Singapura terkoreksi 0,03%, dan baht Thailand melemah 0,05%.
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan, "Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar negeri. Dari luar negeri, pasar masih mencermati pertemuan The Fed yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga setelah tiga kali pemotongan berturut-turut tahun lalu. Selain itu, ketegangan antara Jerome Powell dan Presiden AS Donald Trump juga menjadi sorotan investor."
Sentimen global lain yang membuat pasar waspada adalah ancaman tarif perdagangan dari Presiden Trump terhadap sejumlah sekutu AS, termasuk Korea Selatan, Kanada, dan potensi kebijakan perdagangan dengan Tiongkok.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk aktivitas kapal AS di wilayah tersebut, juga menambah kewaspadaan pelaku pasar.
Di sisi domestik, rupiah menghadapi tantangan dari kebutuhan pembiayaan utang pemerintah pada 2026, termasuk menutup defisit anggaran dan melunasi pokok utang yang jatuh tempo.
Kondisi makroekonomi yang belum stabil dan ketergantungan pada penjualan Surat Berharga Negara (SBN) membuat investor asing bersikap hati-hati dan lebih banyak menunggu.
"Investor masih memegang posisi wait and see, terutama terkait kebijakan fiskal Indonesia yang dinilai belum cukup hati-hati. Ini bisa memicu fluktuasi rupiah sepanjang hari," tambah Ibrahim.
Sejumlah analis memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah menjelang penutupan perdagangan di kisaran Rp16.760–Rp16.790 per dolar AS.*